MARKET DATA
CNBC Insight

Guru SD Kaya Mendadak, Ketemu Harta Karun Miliaran di Halaman Sekolah

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
04 April 2026 20:45
Hujan disertai angin kencang pada Jumat dinihari diduga menyebabkan atap sebuah sekolah roboh di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur. Akibat atap runtuh, sebanyak delapan dari 17 ruang kelas di blok bangunan siswa Kelas X SMKN 24 Bambu Apus itu tidak dapat difungsikan.

"Kejadian tadi pagi jam 02.45, petugas jaga malam melaporkan ke kami ada atap kelas ambruk," kata Kepala SMKN 24 Bambu Apus, Tri Eriyani di Jakarta, Jumat 21 Februari 2020.

Lokasi kejadian berada di lantai dua ruang kelas X SMKN 24 Bambu Apus di Jalan Bambu Hitam. Bangunan ruang kelas yang berjajar memanjang di sisi timur sekolah mengalami ambruk pada bagian konstruksi atap berbahan baja ringan. Akibatnya genteng bangunan berhamburan jatuh hingga ke halaman sekolah.

Tidak dilaporkan adanya korban luka ataupun jiwa dalam peristiwa atap runtuh itu sebab kegiatan belajar mengajar siswa belum dimulai pada saat atap ambruk.

"Di atas itu ruang teori saja. Hari ini kita kosongkan 17 ruang kelasnya karena berada satu lantai dengan delapan ruang kelas yang atapnya ambruk," katanya.

Ruang kelas yang tak bisa digunakan akibat atap runtuh itu diisi oleh 600 siswa. Tiap ruang kelas diisi rata-rata 36 siswa.

Kepala SMKN 24 belum bisa menyimpulkan penyebab atap sekolah roboh. Namun saat peristiwa itu berlangsung sedang terjadi hujan deras disertai angin kencang. "Saat ini masih kita data kerugian serta kerusakan yang terjadi," katanya.

Akibat atap sekolah roboh karena hujan dan angin kencang itu, untuk sementara ruang belajar siswa kelas X akan dievakuasi ke ruang kelas XI SMKN 24 Bambu Apus. "Kebetulan kelas XI masih magang, sehingga bisa dialihkan ke sana, yang penting kegiatan belajar mengajar mereka bisa terus berjalan," kata Tri.

Dari pantauan CNBC Indonesia dilapangan petugas PPSU juga membantu membersihkan sisa sisa puing genteng yang hancur disekitar lokasi. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Sekolah Ambruk di SMKN 24 Jakarta (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

 

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Ungkapan "hujan membawa berkah" benar-benar menjadi kenyataan bagi Nuryasin, seorang guru sekaligus Kepala SDN Pejagan IV di Madura. Di tengah guyuran hujan, ia justru menemukan sesuatu yang bernilai layaknya harta karun.

Peristiwa tersebut bermula saat Nuryasin melihat lapangan sekolah menjadi becek akibat hujan. Ia khawatir kondisi tersebut akan membuat lantai sekolah yang sudah bersih ikut kotor karena lalu lalang para murid. Berinisiatif mengatasi masalah itu, Nuryasin mengambil cangkul dan mulai menggali tanah untuk menutup area yang becek dengan tanah kering.

"Saya menggali tanah di halaman, untuk menimbun bagian lainnya yang becek bekas hujan," ungkap Nuryasin.

Penggalian tanah sangat berjalan lancar. Nuryasin berhasil menutup satu per satu titik becek. Tinggal beberapa titik lagi yang belum dia selesaikan.

Saat hendak menggali tanah kering lebih dalam lagi sekitar 25-30 cm, Nuryasin tiba-tiba terperanjat. Betapa kagetnya dia melihat gerabah kuno di lubang galian.

Gerabah tersebut lantas dikeluarkan dan tak disangka berisi harta karun tak terduga. Yakni mata uang koin kuno peninggalan masa VOC.

"Uang yang ditemukan bertuliskan VOC dan lambang Kerajaan Belanda, dengan tahun pemakaian antara tahun 1746 s/d 1760, berdiameter 2,1 cm. Lalu, jenis kedua berdiameter 2,9cm yang pada pemukannya bertuliskan Indiae Batav 1819 s/d 1828," tulis pewarta Suara Karya (1 Februari 1991).

Kabar Nuryasin menemukan harta karun langsung membuat gempar Indonesia. Otoritas terkait langsung bergegas datang.

Singkat cerita, temuan Nuryasin dibenarkan sebagai peninggalan sejarah berupa koin perak peninggalan VOC dan penjajahan Belanda. Seluruhnya memiliki berat 13 Kg setara miliaran rupiah.

Setelah penemuan, banyak orang menganggap Nuryasin bakal jadi miliarder. Sebab dia menemukan harta karun bersejarah dan bernilai tinggi. Namun, Nuryasin menolak menjadikan temuan arkeologi untuk mendulang kekayaan sekalipun banyak orang mendorongnya menjual seluruh temuan, dibanding menyerahkan kepada pemerintah.

"Tapi, itu tak mungkin saya lakukan. Uang temuan ini akan kami serahkan pada museum, atas dasar petunjuk Depdikbud," kata Nuryasin.

Pada akhirnya, Nuryasin batal jadi miliarder. Namun, nama dia tercatat dalam sejarah sebagai penemu harta karun bersejarah.

Pada akhirnya, temuan harta karun yang berada di lapangan SD itu menguak tabir sejarah baru bagaimana masyarakat bertransaksi di era VOC ratusan tahun lalu.

Transaksi Pakai Koin Emas-Perak

Sebagai wawasan, dari masa Kerajaan Hindu-Budha eksis, masyarakat sudah bertransaksi menggunakan mata uang, bukan barter atau tukar menukar barang.

Erwin Kusuma dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya (2021) mencatat, masyarakat Jawa kuno lazim menggunakan mata uang berupa koin emas dalam transaksi perdagangan di pasar. Hanya saja, transaksi melalui koin emas digunakan dalam skala besar, seperti jual-beli tanah, bukan transaksi di pasar.

Lalu ketika VOC datang, transaksi menggunakan koin juga dilakukan. Hanya saja, VOC melakukan penyeragaman mata uang.

Museum Bank Indonesia menyebut, Kongsi dagang itu berupaya menggantikan semua mata uang asing yang beredar di Nusantara. Dari sini, VOC mengedarkan banyak ragam mata uang untuk transaksi perdagangan.

Ada rijksdaalder, dukat, stuiver, gulden, dan doit. Seluruhnya berbentuk koin bundar dan pipih berbahan dasar emas, perak, tembaga, hingga nikel. Dari seluruh koin, doit barangkali jadi salah satu yang membekas dalam benak masyarakat Indonesia.

Sebab, penamaan koin doit era VOC perlahan menjadi kata ganti sebutan uang bagi masyarakat Indonesia, yakni 'duit'. Keberadaan koin makin masif usai VOC memproduksinya di dalam negeri.

Dari sini, seluruh masyarakat menggunakan koin tersebut untuk bertransaksi. Namun, eksistensi era VOC berakhir ketika kongsi dagang itu runtuh pada 1799.

Setelahnya, beredar mata uang baru yang dipopulerkan pemerintah Hindia Belanda. Sementara, mata uang era VOC kemudian tinggal sejarah.

Sebagian ada yang menjadi harta karun terpendam bersejarah dan bernilai tinggi. Ini seperti yang ditemukan Nuryasin 33 tahun lalu.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Guru SD Temukan Harta Karun di Halaman Sekolah, Nilainya Miliaran


Most Popular
Features