Harga Batu Bara Anjlok, Laba PTBA Turun Jadi Rp 2,93 Triliun

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Kamis, 02/04/2026 14:10 WIB
Foto: Tambang batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. (Dok. PTBA)

Jakara, CNBC Indonesia — PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,93 triliun sepanjang tahun 2025. Torehan itu anjlok 43% secara tahunan atau year on year (yoy).

Merinci siaran persnya, emiten batu bara pelat merah itu mencatatkan pendapatan usaha turun tipis menjadi Rp42,65 triliun. Perolehan itu turun tipis dari setahun sebelumnya sebesar Rp42,76 triliun.

Meskipun volume penjualan PTBA tercatat meningkat 6% yoy, namun pelemahan harga batu bara, baik Newcastle Index yang turun 22% YoY dan ICI-3 yang turun 16% yoy, berimbas pada pelemahan harga jual rata-rata yang tercatat turun 6% yoy.


Adapun untuk porsi penjualan sampai dengan akhir Desember 2025 ini, penjualan domestik tercatat sebesar 54%, sedangkan sisanya 46% merupakan ekspor. Pada akhir periode ini, lima negara tujuan ekspor terbesar ditempati oleh Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.

Beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp36,39 Triliun, atau naik sebesar 5% secara yoy. Kenaikan ini seiring dengan peningkatan volume operasional, baik produksi batu bara yang naik 9% yoy maupun angkutan yang juga naik 6% yoy, meskipun dari sisi stripping ratio tercatat lebih rendah di angka 6,07x dari pada periode yang sama tahun sebelumnya di angka 6,23x.

Selain itu, pencabutan subsidi komponen FAME pada Biodiesel serta kewajiban untuk menggunakan B40 juga berdampak pada peningkatan harga BBM/liter (+13% yoy), yang otomatis berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh PTBA, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api.

Di samping itu, secara yoy, beban umum dan administrasi naik sebesar Rp261,88 miliar atau 13% dan beban penjualan naik 3% atau sebesar Rp23,58 miliar. Kenaikan ini selaras dengan peningkatan volume penjualan yang naik 6% yoy.

PTBA membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp219,50 miliar, atau turun 12% yoy seiring dengan turunnya penghasilan bunga baik dari penempatan kas di bank dan deposito berjangka maupun dari penempatan obligasi.

Biaya keuangan tercatat Rp325,93 miliar atau naik 15% yoy seiring dengan peningkatan beban bunga dari pinjaman bank. Sedangkan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama tercatat Rp 671,56 miliar, atau naik 5% yoy.

Di sisi neraca, total aset PTBA pada 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp43,92 triliun atau naik 5% dibandingkan akhir tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp41,79 triliun. Hal tersebut disebabkan adanya kenaikan nilai aset tidak lancar sebesar 12% atau ekuivalen dengan Rp3,12 triliun, yang utamanya diperoleh dari penambahan aset tetap.

Total Liabilitas dan Ekuitas Total liabilitas pada 31 Desember 2025 tercatat naik dari posisi pada akhir Desember 2024 sebesar Rp19,14 triliun, menjadi Rp21,30 triliun,yang utamanya disebabkan oleh adanya kenaikan pinjaman bank. Sedangkan ekuitas tercatat menurun tipis dari posisi akhir Desember 2024 sebesar Rp22,64 triliun menjadi Rp22,62 triliun pada 31 Desember 2025.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Siasat Pengusaha Cegah "Malapetaka" Bisnis Mall Usai Lebaran