Rupiah Balik Menguat, Dolar AS Tutup di Bawah Rp17.000
Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah berhasil membalik keadaan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/4/2026).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan hari ini di zona hijau dengan apresiasi 0,09% ke level Rp16.975/US$. Padahal, pada perdagangan intraday rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000/US$. Bahkan, rupiah sempat menyentuh Rp17.026/US$, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah secara intraday.
Ini menjadi pertama kalinya rupiah menembus level krusial tersebut di pasar spot. Namun, setelah sempat tertekan pada awal perdagangan, rupiah mampu berbalik arah dan kembali ditutup di bawah level psikologis Rp17.000/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau melanjutkan pelemahannya dengan turun 0,32% ke posisi 99,630.
Pergerakan rupiah yang cukup volatil hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan tekanan terhadap rupiah masih berkaitan erat dengan sikap investor global yang cenderung risk averse terhadap aset emerging markets seperti Indonesia di tengah perang di Timur Tengah dan harga minyak mentah yang masih bertahan tinggi.
Kondisi tersebut membuat aliran modal asing ke pasar domestik tertahan, bahkan diwarnai aksi jual dan profit taking.
Di saat yang sama, dari dalam negeri tekanan juga datang dari meningkatnya permintaan valas untuk kebutuhan impor, terutama impor BBM, belanja rutin awal bulan, musim dividen, serta pergeseran pembayaran utang luar negeri setelah libur Lebaran.
"Untuk pergerakan nilai tukar rupiah, saya rasa ini masih erat hubungannya dengan perkembangan dari sisi perilaku investor global yang masih melakukan aksi risk averse untuk investasi di emerging market seperti Indonesia," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).
Pandangan serupa juga disampaikan Kepala Ekonom BCA Davidi Sumual. Menurut dia, tekanan terhadap rupiah hari ini masih lebih banyak dipicu faktor eksternal, terutama kenaikan harga minyak mentah dunia akibat perang di Timur Tengah yang terus memicu kekhawatiran di pasar keuangan.
Namun, ia menilai tekanan itu juga mulai merembet ke sentimen domestik, khususnya terkait potensi dampaknya terhadap APBN. "Jadi masih soal sentimen negatif eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kekhawatiran dampaknya ke APBN. Ada selling pressures yang cukup kuat dari asing di pasar SUN," ujar Davidi kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).
Meski sentimen negatif masih besar, pelaku pasar tetap melihat ada ruang stabilisasi, terutama ketika tekanan eksternal mulai sedikit mereda dan dolar AS ikut terkoreksi.
(evw/evw) Add
source on Google