Breaking News! Harga Minyak Anjlok 16%, Tinggalkan Level US$100

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Rabu, 01/04/2026 14:37 WIB
Foto: Ilustrasi Kilang Minyak (AP/Eric Gay)

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia berbalik arah dan turun tajam pada perdagangan Rabu (1/4/2026) siang. Berdasarkan data Refinitiv pukul 14.20 WIB, harga Brent tercatat di US$99,35 per barel, anjlok dari posisi sebelumnya US$118,35 per barel.

Jika dihitung harian, penurunan Brent mencapai sekitar 16%. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun lebih terbatas ke US$97,44 per barel dari US$101,38, atau melemah sekitar 3,9%.




Pelemahan ini terjadi setelah harga sempat menguat di awal perdagangan, lalu berbalik turun seiring pelaku pasar mulai mengamankan keuntungan. Laporan Reuters menyebutkan, sentimen utama datang dari dinamika konflik Timur Tengah, khususnya terkait potensi berakhirnya perang antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa operasi militer bisa selesai dalam dua hingga tiga minggu. Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak mulai berkurang, sehingga mendorong aksi jual.

Meski begitu, ketidakpastian belum sepenuhnya hilang. Jalur distribusi energi global, terutama Selat Hormuz-yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia-masih menghadapi gangguan. Bahkan jika konflik mereda, pemulihan arus logistik dinilai tidak akan berlangsung cepat.

Analis pasar juga menyoroti bahwa kerusakan infrastruktur energi serta biaya pengiriman dan asuransi tanker berpotensi tetap tinggi dalam waktu tertentu. Artinya, tekanan pada sisi pasokan masih membayangi pasar.

Di sisi lain, survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC turun pada Maret akibat pemangkasan ekspor yang dipicu penutupan jalur distribusi. Sementara di Amerika Serikat, produksi minyak sempat turun tajam pada Januari akibat badai musim dingin ekstrem.

Pergerakan harga dalam sepekan terakhir menggambarkan volatilitas tinggi. Brent sempat menyentuh US$118 pada 31 Maret sebelum akhirnya turun ke bawah US$100 hari ini. Fluktuasi ini mencerminkan tarik-menarik antara ekspektasi meredanya konflik dan risiko gangguan pasokan yang masih tersisa.

CNBC Indonesia Research


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inflasi Bisa Melonjak Efek Perang, Suku Bunga Berpotensi Naik