MARKET DATA

Ini Penyebab Dolar AS Tembus Rp17.000

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
01 April 2026 10:17
U.S. dollar banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah mengalami tekanan pada hari ini melawan dolar Amerika Serikat. Mata uang garuda bahkan telah tersudut hingga melampaui level Rp 17.000 per dolar AS per pukul 09.31 WIB, berdasarkan data Refinitiv.

Kurs rupiah konsisten mengalami tekanan hebat setelah 26 Maret 2026, pada saat itu, sebetulnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu menguat ke level Rp 16.895 dari sebelumnya ke level Rp 16.975 per dolar AS per 17 Maret 2026.

Pada 27 Maret 2026, rupiah bergerak ke level Rp 16.960 per dolar AS, dan merangkak naik ke level Rp 16.990 per dolar AS pada 31 Maret 2026, sebelum akhirnya bertengger di level Rp 17.000 per dolar AS pada hari ini.

Kepala Ekonom Davidi Sumual mengatakan, tekanan yang dihadapi rupiah hari ini lebih disebabkan faktor eksternal, yakni terus merangkak naiknya harga minyak mentah dunia akibat perang di Timur Tengah yang membuat kekhawatiran para pelaku pasar keuangan.

Namun, ia mengakui, permasalahan internal juga tak luput dari faktor penambah tekanan sentimen pelaku pasar keuangan, terutama terkait efek rambatan dari kenaikan harga minyak ke APBN. Akibatnya terlihat terjadi tekanan jual di pasar Surat Utang Negara.

"Jadi masih soal sentimen negatif eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kekhawatiran dampaknya ke APBN. Ada selling pressures yang cukup kuat dari asing di pasar SUN," ucap Sumual kepada CNBC Indonesia, Rabu (1/4/2026).

Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank Faisal Rachman menambahkan, selain masih berlanjutnya sentimen perang Timur Tengah, meski semalam sudah mulai mereda hingga memunculkan risk on sentimen, rupiah justru masih terbebani sentimen negatif di domestik.

Ia menjabarkan, di antaranya ialah keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bensin non subsidi menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia ke depan sehingga ada risk off dari sisi sana.

Faktor kedua, membaiknya sentimen global membuat BI kemungkinan tidak buru-buru melakukan intervensi di FX market seperti hari-hari sebelumnya. Ketiga, ini sudah masuk ke triwulan kedua dimana pembayaran imbal hasil aset keuangan Indonesia ke non resident secara musiman cenderung meningkat.

"Dan keempat, ada antisipasi juga terhadap rilis data inflasi dan trade balance Indonesia pada hari ini," tegasnya.

Meski begitu, penting dicatat Bank Indonesia (BI) per Senin (30/4/2026) resmi mengimplementasikan instrumen baru dalam operasi moneter untuk menjaga stabilitas kurs.

Instrumen itu berupa transaksi repo dalam valuta asing dengan underlying atau agunan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar atau pro-market.

Tujuannya, meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

"Dalam pelaksanaannya, transaksi repo valas ini dapat diikuti oleh dealer utama (primary dealer) PUVA," kata Erwin dikutip dari keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).

Kehadiran instrumen ini menurut Erwin dapat memberikan alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas, khususnya likuiditas valas.

"Selain itu, penambahan fitur repo kepada Bank Indonesia semakin memperkuat karakteristik SVBI dan SUVBI sebagai high quality liquid assets (HQLA)," tegasnya.

Melalui penguatan instrumen ini, aktivitas pasar sekunder SVBI dan SUVBI ia harapkan akan semakin meningkat.

"Sehingga turut mendukung pendalaman pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut," ucap Erwin.
(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Rupiah Melemah, Tembus Rp 16.730 Per Dolar AS


Most Popular
Features