Laba Merdeka Battery (MBMA) Naik 29,77% Sepanjang 2025

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Selasa, 31/03/2026 12:15 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Emiten pertambangan nikel PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat kenaikan laba 29,77% secara tahunan (yoy) pada tahun 2025.

Menurut laporan keuangan terbaru, laba yang diatribusikan ke entitas induk MBMA tercatat naik dari US$22,78 juta pada 2024 menjadi US$29,56 juta atau setara sekitar Rp492,64 miliar pada 2025.

Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini membukukan pendapatan sebesar sekitar US$1,43 miliar. Angka ini turun 22,23% dari tahun lalu US$1,84 miliar pada tahun 2024.


Tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi salah satu pendorong utama kinerja operasional ditandai dengan peningkatan volume produksi. Total produksi bijih saprolit mencapai 7,0 juta wet metric ton (wmt) dan limonit sebesar 14,7 juta wmt yang mendukung kebutuhan bahan baku bagi fasilitas hilir Perseroan serta memperkuat integrasi operasional.

Di sisi hilir, Perseroan terus mengembangkan kapasitas pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah. Operasi hilir Perseroan berhasil meningkatkan margin secara tahunan, didukung oleh biaya produksi yang lebih rendah dan peningkatan pasokan bijih internal.

Produksi Nickel Pig Iron (NPI) sebesar 73.871 ton, sementara produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) mencapai sekitar 19.998 ton. Pengembangan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) juga menunjukkan progres positif, dengan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar sekitar 25.994 ton.

Selain itu, Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), anak usaha MBMA, empat fasilitas pengolahan yang terintegrasi penuh terus menunjukkan perkembangan yang konstruktif dan berada pada jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh.

"Di tengah pelemahan harga nikel global sepanjang 2025, MBMA berhasil menjaga kinerja yang resilien melalui kombinasi peningkatan volume, efisiensi operasional, serta optimalisasi integrasi rantai nilai dari tambang hingga produk hilir. Perseroan juga secara disiplin mengelola struktur biaya di tengah kenaikan biaya operasional, termasuk dampak implementasi kebijakan bahan bakar biodiesel dan penyesuaian tarif royalti," sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Selasa, (31/3/2026).

Untuk tahun 2026, MBMA menargetkan produksi 8-10 juta wmt bijih saprolit sementara produksi bijih limonit ditargetkan mencapai 20-25 juta wmt. Di sektor hilir nikel, produksi NPI ditargetkan antara 70.000-80.000 ton sementara HGNM sebesar 44.000-48.000 ton.

MBMA juga terus memperkuat struktur biaya operasional, termasuk penurunan biaya tunai NPI sebesar 9% YoY selama tahun 2025. MBMA memperkirakan efisiensi biaya lebih lanjut seiring dengan peningkatan pasokan saprolit SCM untuk mencapai swasembada bijih 100% pada tahun fiskal 2026.

Selain itu, Perseroan telah memulai pengoperasian Feed Preparation Plant (FPP) untuk mengirim slurry limonit melalui jalur pipa dari tambang SCM HPAL ke HPAL PT ESG New Energy Material guna meningkatkan efisiensi operasional. Hal ini mendukung target produksi MHP sebesar 27.000-30.000 ton pada 2026.

Sementara itu, proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dengan kapasitas terpasang sebesar 90.000 ton nikel per tahun terus berjalan sesuai rencana, dengan commissioning jalur pertama ditargetkan pada semester kedua 2026.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Produksi Bijih Nikel Dipangkas, Gimana Nasib Hilirisasi Nikel?