Nilai Tukar Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Bertengger di Rp16.980

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Selasa, 31/03/2026 09:06 WIB
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini, Selasa (31/3/2026), di tengah koreksi tipis dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di zona hijau dengan terapresiasi tipis 0,03% ke posisi Rp16.980/US$. Penguatan ini terjadi setelah di perdagangan sebelumnya, Senin (30/3/2026), rupiah ditutup melemah 0,15% ke level Rp16.985/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah pada pagi ini. Per pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,15% ke posisi 100,358. Meski terkoreksi, posisi indeks tersebut masih berada di level tinggi setelah sempat menyentuh 100,61 pada perdagangan Senin kemarin, yang merupakan level tertingginya sejak Mei tahun lalu.


Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih dibayangi faktor eksternal, terutama memanasnya perang AS-Israel melawan Iran yang terus mendorong lonjakan harga minyak dunia. Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko dan mengalihkan dana ke aset safe haven, termasuk dolar AS.

Kondisi tersebut tercermin dari kinerja dolar AS yang mencatat penguatan signifikan sepanjang Maret ini. Indeks dolar bahkan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025, dengan penguatan sekitar 2,9% sepanjang bulan ini.

Artinya, permintaan terhadap dolar masih sangat kuat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko perlambatan ekonomi global.

Tekanan pasar kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin memperingatkan bahwa Washington akan menghancurkan fasilitas energi dan sumur minyak Iran apabila Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran menilai proposal damai AS tidak realistis dan kembali meluncurkan rudal ke Israel.

Sentimen negatif juga datang dari laporan bahwa sebuah kapal tanker minyak Kuwait yang tengah berlabuh di Dubai terkena serangan Iran. Insiden ini semakin memicu kenaikan harga minyak dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Ketua Bank Sentral AS Jerome Powell sebenarnya telah meredam spekulasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Ia menegaskan bank sentral AS masih mengambil pendekatan wait and see dan menyebut ekspektasi inflasi jangka panjang masih terjaga.

Pernyataan itu sempat menekan imbal hasil obligasi tenor pendek AS, tetapi belum cukup untuk melemahkan dolar, karena mata uang tersebut tetap diburu sebagai aset aman saat prospek pertumbuhan ekonomi global memburuk.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Indeks Dolar AS 'Terbang' hingga IHSG Tinggalkan Level 7.000