Pemerintah Bhutan Lepas Rp2,03 T Bitcoin Sejak Awal 2026
Jakarta, CNBC Indonesia — Pemerintah Bhutan dilaporkan telah melepas sekitar US$120 juta atau sekitar Rp2.03 triliun dalam bentuk Bitcoin sejak awal tahun 2026. Langkah ini mempercepat strategi divestasi yang telah memangkas lebih dari 60% cadangan aset digital negara tersebut dari posisi puncaknya.
Melansir Yahoo Finance, Senin (30/3/2026), data dari Arkham Intelligence menunjukkan transaksi terbaru terjadi pada 27 Maret, ketika pemerintah memindahkan 123,7 BTC senilai sekitar US$8,5 juta ke alamat baru yang sebelumnya tidak digunakan. Pergerakan ini terjadi hanya 48 jam setelah Bhutan menjual 519,7 BTC dengan nilai sekitar US$36,75 juta.
Dalam mengeksekusi penjualan, Bhutan disebut memanfaatkan mekanisme over-the-counter (OTC) dan market maker guna meminimalkan dampak terhadap pasar terbuka. Salah satu pihak yang terlibat adalah QCP Capital yang berbasis di Singapura.
Aksi jual pada 2026 ini menandai perubahan signifikan dalam strategi sovereign wealth fund Bhutan, yakni Druk Holding and Investments. Jika sebelumnya penjualan dilakukan secara sporadis, kini aktivitas tersebut terlihat lebih terstruktur dan bersifat programatik.
Sejak 1 Januari 2026, pemerintah telah memindahkan aset senilai US$158,57 juta dari dompet utamanya dan hanya menerima kembali US$38,84 juta. Arkham mencatat Bhutan secara bertahap menjual Bitcoin dalam kisaran US$5-10 juta per transaksi, termasuk penjualan sekitar 3.500 BTC pada periode September 2025.
Berbeda dengan banyak negara lain yang memperoleh Bitcoin dari hasil penyitaan aset kriminal, Bhutan membangun cadangannya melalui program penambangan yang didukung negara sejak 2019. Dengan memanfaatkan kelebihan energi hidroelektrik dari sungai glasial, negara ini sempat mengumpulkan hingga 13.000 BTC.
Namun, penjualan yang konsisten dalam dua tahun terakhir telah memangkas kepemilikan tersebut menjadi sekitar 4.300 BTC dengan nilai mendekati US$300 juta. Meski demikian, Bhutan masih tercatat sebagai pemegang Bitcoin terbesar ketujuh di dunia, di bawah Amerika Serikat, China, Inggris, El Salvador, dan Uni Emirat Arab.
Analis menilai hasil penjualan Bitcoin tersebut kemungkinan besar dialokasikan untuk proyek infrastruktur besar nasional. Salah satu proyek utama adalah Gelephu Mindfulness City yang dirancang sebagai kawasan administratif khusus.
Pemerintah sebelumnya berencana mengalokasikan hingga 10.000 BTC untuk proyek tersebut. Namun, tingkat likuidasi saat ini mengindikasikan bahwa dana dari cadangan tersebut mulai digunakan untuk mendukung tahap awal pembangunan.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]