MARKET DATA

Rupiah Menguat Tipis, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp16.895

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 March 2026 15:04
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (26/3/2026).

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di level Rp16.895/US$ atau menguat 0,06%. Meski demikian, penguatan rupiah pada sore ini lebih kecil dibandingkan posisi saat pembukaan. Pada pagi hari, rupiah sempat dibuka menguat 0,21% ke level Rp16.870/US$.

Walau tipis, penguatan ini tetap memperpanjang tren positif rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (25/3/2026), rupiah ditutup menguat 0,41% di level Rp16.905/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,09% ke level 99,693.

Pergerakan rupiah hari ini terbilang menarik karena mampu menguat meski indeks dolar AS ikut naik. Biasanya, ketika DXY menguat, mata uang negara lain, termasuk rupiah, cenderung tertekan.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari rencana efisiensi anggaran yang diungkap pemerintah sebagai langkah antisipasi terhadap dampak rambatan perang di Timur Tengah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan skema efisiensi itu akan dijalankan secara bertahap. "Kan tahap satu, tahap dua, tahap tiga kita jalankan nanti," ujar Purbaya.

Ia juga menegaskan langkah tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas fiskal. "Yang jelas anggarannya sudah clear. Jadi APBN saya bisa dikendalikan, enggak tembus 3%," tegasnya.

Sebagai informasi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya mengungkapkan total efisiensi anggaran yang dirancang untuk APBN 2026 mencapai Rp81 triliun, di luar relokasi anggaran yang telah disisir sebesar Rp800 triliun.

Dari eksternal, pelaku pasar masih menunggu kejelasan apakah perang AS-Israel melawan Iran benar-benar akan mereda atau justru berlanjut. Ketidakpastian ini membuat pergerakan pasar cenderung hati-hati, sementara indeks dolar AS masih bertahan di level yang relatif tinggi.

Di sisi lain, pasar juga mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga AS setelah lonjakan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz sempat memicu kekhawatiran inflasi.

Pelaku pasar kini semakin yakin bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menahan suku bunga lebih lama. Kondisi ini membuat ruang penguatan mata uang emerging market, termasuk rupiah, lebih terbatas.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Menutup Pekan Naik Tipis, Dolar AS Turun ke Rp16.625


Most Popular
Features