Minyak Ambles 5%, Harapan Damai Timur Tengah Tekan Harga

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Rabu, 25/03/2026 10:36 WIB
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Rabu pagi (25/3/2026), dengan penurunan mendekati 5% seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Mengacu data Refinitiv per pukul 10.25 WIB, harga minyak Brent berada di US$99,11 per barel, turun dari posisi US$104,49 pada penutupan sebelumnya.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$88,48 per barel, melemah dari US$92,35. Koreksi ini menandai pembalikan arah setelah lonjakan tajam yang sempat terjadi di awal pekan.


Jika ditarik lebih jauh, pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas tinggi. Brent sempat menyentuh US$112,19 pada 20 Maret, sebelum perlahan turun ke kisaran US$90-an. WTI juga bergerak serupa, dari US$98,32 menjadi di bawah US$90 dalam waktu singkat.

Melansir dari Reuters, penurunan ini dipicu meningkatnya ekspektasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah AS dilaporkan telah mengirimkan proposal perdamaian berisi 15 poin untuk mengakhiri konflik yang selama ini mengganggu distribusi energi global.

Analis Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa menyebut pasar mulai melakukan aksi ambil untung setelah harga sempat melonjak. Ekspektasi meredanya konflik mendorong pelaku pasar untuk mengurangi posisi, meski arah negosiasi masih belum pasti.

Selama konflik berlangsung, distribusi minyak dan gas global terganggu, terutama di Selat Hormuz jalur vital yang menampung sekitar seperlima pasokan energi dunia. Gangguan ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar oleh Badan Energi Internasional (IEA).

Di tengah situasi tersebut, Arab Saudi meningkatkan ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah hingga mendekati 4 juta barel per hari. Langkah ini menjadi penyangga sementara untuk menjaga aliran pasokan global di luar jalur Hormuz.

Sinyal lain yang meredakan pasar datang dari Iran, yang menyatakan kapal non-hostile masih dapat melintas di Selat Hormuz dengan koordinasi tertentu. Pernyataan ini sedikit menurunkan kekhawatiran pasar terhadap potensi penutupan jalur strategis tersebut.

Meski begitu, risiko belum sepenuhnya sirna. Ketegangan militer di kawasan masih berlangsung, dan setiap eskalasi baru terutama yang menyasar fasilitas energi berpotensi mendorong harga kembali melonjak.

CNBC INDONESIA RESEARCH


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Terancam Tembus USD 200/barel Hingga IHSG Amblas