Iran Bom Sumber Duit Qatar, Bursa Asia Warna Warni, Investor Bingung

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Jumat, 20/03/2026 14:10 WIB
Foto: Seorang pekerja mengepel di depan papan elektronik yang menampilkan indeks saham Nikkei dan tingkat obligasi pemerintah Jepang jangka 10 tahun di luar sebuah perusahaan pialang di Tokyo, Jepang, 9 Februari 2026. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia bergerak bervariasi yang dibayangi oleh sentimen eskalasi konflik Timur Tengah. Geopolitik di negara tersebut dan gangguan pasokan energi masih menjadi kegelisahan investor.

Sentimen global yang cenderung negatif mendorong aksi jual di sejumlah bursa utama. Di Jepang, indeks Nikkei 225 mencatat penurunan paling tajam di kawasan. Indeks ini anjlok sebesar 1.866,87 poin atau turun 3,38% ke level 53.372,53.

Sementara itu, pasar China bergerak variatif. Indeks Shanghai Composite Index turun tipis 8,431 poin atau 0,21% ke posisi 3.998,121. Sebaliknya, indeks Shenzhen Component Index justru menguat 170,348 poin atau naik 1,23% ke level 14.071,915.


Di Hong Kong, indeks Hang Seng Index juga berada di zona merah, turun 156,97 poin atau 0,62% ke posisi 25.343,61. Tekanan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi regional.

Dari Australia, indeks S&P/ASX 200 melemah 58,60 poin atau 0,69% ke level 8.439,20. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan komoditas dan sentimen global.

Berbeda dengan mayoritas pasar, Korea Selatan mencatat penguatan. Indeks KOSPI naik tipis 5,08 poin atau 0,09% ke posisi 5.768,30, didukung oleh saham-saham berkapitalisasi besar.

Mengutip CNBC Internasional, Iran menyerang pabrik gas terbesar dunia di Qatar pada hari Kamis, yang menyebabkan kerusakan pada pasokan energi untuk beberapa tahun ke depan. Hal itu sebagai balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars miliknya.

CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi mengatakan, serangan Iran telah menghancurkan 17% kapasitas ekspor LNG negara tersebut dalam 3-5 tahun ke depan. Serangan balasan terhadap infrastruktur minyak dan gas utama di seluruh Timur Tengah menyebabkan harga energi melonjak.

Harga gas alam AS terakhir tercatat naik 1,5%, diperdagangkan pada level US$3,112 per juta British thermal units. Sementara itu, kontrak bensin RBOB Nymex bulan depan untuk pengiriman April naik hampir 1% menjadi US$3,13 dan mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun.

Harga minyak turun seiring dengan penurunan kontrak berjangka minyak mentah Brent, patokan internasional, sebesar 2% menjadi US$106,45 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,56% menjadi US$94,64.

Arab Saudi, salah satu produsen minyak terbesar di dunia, memperkirakan harga akan melonjak melampaui US$180 per barel jika gangguan pasokan berlanjut hingga akhir April.

Dampak pasar dari perang regional ini juga meluas ke logam, dengan emas dan perak masing-masing turun sekitar 5% dan 10% sebelum memangkas kerugian.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Terancam Tembus USD 200/barel Hingga IHSG Amblas