NIlai Tukar Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp16.940
Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki perdagangan perdana pada pekan ini yang berlangsung lebih singkat, Senin (16/3/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan pagi ini rupiah terkoreksi tipis 0,03% ke level Rp16.940/US$. Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang sudah terjadi pada perdagangan sebelumnya, Jumat (13/3/2026), saat rupiah ditutup melemah sekitar 0,30% ke posisi Rp16.935/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau berada di zona merah dengan pelemahan 0,10% ke level 100,258. Meski demikian, pada penutupan perdagangan sebelumnya DXY masih mencatat penguatan cukup besar, yakni 0,62% ke posisi 100,362.
Pergerakan rupiah pada perdagangan pertama pekan ini masih banyak dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dari kuatnya dolar AS di pasar global.
Sepanjang pekan lalu, dolar AS mencatat kenaikan mingguan terbaik sejak September 2024 dengan penguatan sekitar 1,7%. Penguatan tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman di tengah perang di Timur Tengah serta masih tingginya harga energi.
Pelaku pasar juga terus mencermati risiko rambatan konflik, terutama terkait kemungkinan terganggunya jalur perdagangan energi global. Kekhawatiran pasar meningkat seiring laporan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan serta potensi gangguan di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur vital distribusi minyak dunia.
Memasuki pekan ketiga konflik, pasar belum melihat banyak tanda meredanya ketegangan. Kekhawatiran justru bertambah karena konflik dinilai berpotensi semakin meluas dan sulit dikendalikan.
Di saat yang sama, upaya sejumlah sekutu AS di Timur Tengah untuk mendorong jalur diplomasi dilaporkan belum mendapat respons positif dari pemerintahan Presiden Donald Trump. Kondisi ini turut menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.
Menguatnya dolar AS, yang tercermin dari pergerakan indeks dolar terhadap enam mata uang utama dunia, menunjukkan bahwa investor masih memburu greenback. Situasi ini pada akhirnya mempersempit ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah.
(evw/evw) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]