Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Naik Jadi Rp16.885
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (12/3/2026), seiring penguatan dolar AS di pasar global.
Mengacu pada data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,12% ke level Rp16.885/US$. Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan, saat mata uang Garuda dibuka melemah 0,15% ke posisi Rp16.890/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp16.870/US$ hingga Rp16.908/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih menguat 0,19% ke posisi 99,420.
Pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis ini masih lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama dari Negeri Paman Sam.
Dari eksternal, penguatan indeks dolar AS membuat ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas. Kenaikan DXY mencerminkan bahwa pelaku pasar kembali memburu dolar AS di tengah masih tingginya ketidakpastian global.
Sentimen pasar juga dipengaruhi data inflasi AS Februari yang dirilis sesuai dengan perkiraan. Meski begitu, perhatian investor saat ini lebih banyak tertuju pada pergerakan harga minyak dan potensi dampak jangka panjang perang AS-Israel melawan Iran terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Pelaku pasar masih berada dalam posisi waspada karena konflik di Timur Tengah berisiko mengganggu perdagangan energi dunia dan memicu lonjakan harga. Risiko ini pada akhirnya membuat dolar AS tetap diminati sebagai aset aman, sekaligus menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
(evw/evw) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]