Ruang Gerak Sempit, Analis Prediksi IHSG Balik ke Level 6.000-an

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Selasa, 10/03/2026 07:35 WIB
Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan siang hari jeda Sesi I Rabu (28/1/2026), mencatatkan pelemahan yang amat dalam mencapai ambles 7,34% di posisi 8.321. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan hari ini, Senin (9/3/2026). IHSG terpantau sempat menyentuh level terendah minus -5,2% ke level 7.156 pada perdagangan pagi tadi. Namun, koreksi saat ini terpangkas meskipun masih cukup dalam di atas minus 3%.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan pasar modal Tanah Air masih dipengaruhi oleh sentimen geopolitik global akibat gangguan besar pada produksi dan pasokan minyak dari Selat Hormuz.


Menurutnya, hal tersebut akan sangat membebani ekonomi banyak negara terutama Asia, termasuk Indonesia.

"Sentimen risk off global yang memburuk, oleh kekuatiran gangguan besar pada produksi dan pasokan minyak dari hormuz akan sangat membebani ekonomi banyak negara terutama Asia. Tren ini akan terus berkelanjutan apabila tidak ada solusi," ujarnya saat dihibungi oleh CNBC Indonesia, Senin (9/3/2026).

Lukman mengatakan, dalam kondisi saat ini, meskipun ada kemungkinan IHSG dapat berbalik arah tidak akan bertahan lama. Sebab, belum ada sentimen yang dapat menekan pelemahan IHSG.

"Besar kemungkinan, walaupun tetap ada kemungkinan rebound dari aksi bargain hunting, atau sentimen yang membaik namun itu tidak akan signifikan dan bertahan lama," sebutnya.

Bahkan, Ia memperkirakan, jika konflik berkelanjutan, apalagi tersekalasi, dapat sangat terbuka untuk turun di bawah 7.000 atau balik ke level 6.000-an. Sebab, dari sentimen domestik juga masih berada pada tren negatif.

Hal senada juga dikatakan oleh Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia mengatakan, koreksi dari IHSG ini sejalan dengan pergerakan bursa global dan regional Asia yang terkoreksi.

"Kami memperkirakan dengan adanya eskalasi konflik di Timur Tengah dan dampak dari penutupan Selat Hormuz masih menjadi sentimen," ungkapnya.

Terpantau harga minyak mentah menguat di atas USD100/barel dan nilai tukar Rupiah sudah menembus level psikologisnya dan berada di Rp 17.009/USD.

Untuk saat ini, kata Herditya, Ia memperkirakan ruang gerak IHSG cukup sempit. "Diperkirakan pergerakannya akan relatif konsolidasi dahulu, karena area koreksi yg kami perkirakan sudah tercapai," ucapnya.

Sebab, saat ini masih banyak sentimen negatif yg beredar dan belum ada faktor lain yang dapat menekan pelemahan IHSG. "Penguatannya pun masih ke arah technical rebound dahulu," imbuhnya.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah & IHSG Terkoreksi Dalam, Alarm Pasar Modal RI Menyala?