IHSG Ambruk 5,2%, Ini Tanggapan Para Analis
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk di awal pekan ini dengan menyentuh level terendah minus -5,2% ke level 7.156. Sebanyak 449 saham turun, 57 naik, dan 158 tidak bergerak dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,5 triliun.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pergerakan IHSG masih dipengaruhi sentimen negatif dari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong investor global mengurangi risk appetite dan beralih ke aset safe haven.
"Secara teknikal, IHSG berada dalam fase bearish consolidation setelah pola downward bar terbentuk. Di sisi lain, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, sementara volume menurun, namun RSI sudah jenuh jual," ujarnya, Senin (9/3/2026).
Selain itu, Fitch Ratings yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari "stable" menjadi "negative", telah menimbulkan kekhawatiran investor terkait arah kebijakan fiskal dan stabilitas makro dari pemerintah.
Ia menyebut, para investor dapat fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid dan bervaluasi murah.
Hal senada juga dikatakan oleh Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus yang mengatakan bahwa Fitch Ratings yang merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun mempertahankan rating di level BBB (investment grade) turut menjadi perhatian investor.
"Perubahan outlook ini mencerminkan meningkatnya risiko terhadap prospek fiskal dan kebijakan ekonomi ke depan, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan serta potensi pelebaran defisit anggaran," jelasnya.
Fitch menyoroti kebutuhan pembiayaan yang lebih besar untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis, yang dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap posisi fiskal apabila tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan negara.
Selain itu, lembaga pemeringkat tersebut juga mencermati rasio utang pemerintah yang masih terkendali namun berpotensi meningkat, serta beban pembayaran bunga yang relatif tinggi dibandingkan negara lain dengan peringkat setara.
"Kami menilai jika disiplin fiskal melemah atau rasio utang meningkat lebih cepat dari perkiraan, risiko penurunan peringkat dapat terbuka. Langkah Fitch ini sejalan dengan keputusan Moody's yang sebelumnya juga menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, sehingga menambah sorotan investor global terhadap kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia ke depan," ungkapnya.
Adapun dalam sepekan lalu, IHSG terjun nyaris 8% hanya dalam seminggu, mencatat pelemahan terburuk melampaui MSCI Crash akhir Januari lalu. Ada tiga penyebab yang bikin pergerakan pasar saham Indonesia anjlok.
Dalam beberapa waktu terakhir, IHSG tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga oleh tekanan eksternal dan perubahan persepsi investor global terhadap Indonesia sebagai destinasi investasi.
Ketegangan geopolitik yang semakin memanas, khususnya di kawasan Timur Tengah, telah mendorong investor global untuk mengambil sikap lebih defensif. Dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, pasar keuangan biasanya mengalami pergeseran sentimen menuju risk-off, yaitu kecenderungan investor untuk mengurangi eksposur pada aset yang dianggap lebih berisiko.
Negara berkembang, termasuk Indonesia, sering kali menjadi salah satu yang paling terdampak karena aliran dana asing yang sebelumnya masuk dapat dengan cepat berbalik arah.
Situasi ini memicu fenomena yang sering disebut sebagai geopolitical contagion, di mana dampak konflik atau ketegangan di satu kawasan menyebar ke pasar keuangan global. Investor internasional cenderung memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah negara maju atau aset berbasis dolar AS.
Akibatnya, pasar saham di emerging markets menghadapi tekanan arus keluar modal. Bagi Indonesia, kondisi ini dapat memicu volatilitas di pasar saham sekaligus menahan potensi penguatan IHSG dalam jangka pendek hingga menengah.
Kedua, meningkatnya kekhawatiran terkait posisi Indonesia dalam indeks saham global. Perhatian investor juga tertuju pada kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks global yang disusun oleh Morgan Stanley Capital Index (MSCI).
Saat ini, bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index terus mengalami tren penurunan dan sudah mendekati kisaran 1%. Penurunan bobot ini mencerminkan semakin kecilnya porsi pasar saham Indonesia dalam portofolio global yang mengikuti indeks tersebut.
Risiko yang mulai diperbincangkan di kalangan pelaku pasar adalah potensi Indonesia mengalami penurunan status dari kategori emerging market menjadi frontier market.
Walaupun skenario ini belum tentu terjadi dalam waktu dekat, diskusi mengenai kemungkinan tersebut saja sudah cukup untuk memengaruhi sentimen investor. Banyak dana investasi global, terutama dana pasif dan ETF, secara otomatis menyesuaikan portofolionya berdasarkan komposisi indeks MSCI.
Jika suatu negara mengalami perubahan klasifikasi, maka arus dana yang mengikuti indeks tersebut juga akan ikut berubah. Dalam skenario ekstrem, perubahan status ini dapat memicu arus keluar dana asing yang signifikan dari pasar saham domestik.
Ketiga, meningkatnya perhatian terhadap risiko kredit negara. Selain tekanan eksternal dan isu klasifikasi pasar, investor juga mencermati perkembangan dari sisi fundamental makroekonomi, khususnya terkait persepsi risiko terhadap utang pemerintah.
Sejumlah lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings, Moody's Investors Service, dan S&P Global Ratings telah memberikan sinyal kehati-hatian melalui perubahan outlook terhadap Indonesia menjadi lebih negatif.
Perubahan outlook ini tidak serta-merta berarti penurunan peringkat kredit akan terjadi dalam waktu dekat.
Namun, sinyal tersebut menunjukkan bahwa lembaga pemeringkat mulai melihat adanya risiko yang perlu diwaspadai, terutama terkait kondisi fiskal, dinamika utang pemerintah, serta potensi tekanan terhadap defisit anggaran di masa depan.
Bagi investor global, perubahan persepsi terhadap risiko kredit negara dapat berdampak luas karena memengaruhi biaya pendanaan pemerintah maupun sektor korporasi. Jika risiko dianggap meningkat, investor biasanya akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk menahan aset negara tersebut.
Dalam konteks pasar saham, meningkatnya kekhawatiran terhadap sovereign credit juga dapat menekan sentimen pasar.
Investor cenderung menjadi lebih selektif dalam menempatkan dana di aset domestik, sehingga pergerakan IHSG berpotensi menjadi lebih terbatas dan sensitif terhadap berbagai perkembangan kebijakan maupun kondisi global.
Selain ketiga alasan di atas, perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang semakin memanas juga membuat harga minyak dunia melambung tinggi. Hal ini rentan menyebabkan inflasi besar di hampir semua negara.
Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga terus melemah bahkan menembus level psikologis di angka Rp17.000 per dolar AS. Belum adanya sentimen positif membuat tekanan terhadap IHSG diprediksi bakal semakin dalam ke depan.
(ayh/ayh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]