MARKET DATA

Bursa Asia Rontok! Nikkei dan Kospi Turun 6% Lebih

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
09 March 2026 08:30
A man looks at an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, Dec. 11, 2019. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Foto: Bursa Jepang (Nikkei). (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa saham Asia anjlok tajam pada perdagangan awal pekan ini, Senin, (9/3/2026) dipicu lonjakan harga minyak dunia yang menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Tekanan paling besar terlihat di Jepang dan Korea Selatan yang memimpin aksi jual di kawasan.

Melansir CNBC.com, Indeks Nikkei 225 di Jepang merosot 6,05% hingga jatuh di bawah level 53.000 untuk pertama kalinya sejak 6 Februari. Sementara indeks TOPIX juga turun 5,27% pada perdagangan pagi.

Sejumlah saham teknologi besar menjadi pemberat indeks, termasuk SoftBank Group yang anjlok hampir 10%. Saham terkait chip seperti Advantest dan Lasertec juga masing-masing merosot lebih dari 10% dan 9%.

Di Korea Selatan, indeks KOSPI turun 6,5% sehingga memicu penghentian sementara perdagangan kontrak berjangka Kospi 200. Pekan lalu, mekanisme circuit breaker juga sempat diaktifkan ketika indeks acuan tersebut anjlok lebih dari 12% dalam sehari, menjadi penurunan harian terburuknya.

Saham raksasa teknologi Samsung Electronics jatuh 8,4%, sementara produsen chip SK Hynix merosot lebih dalam hingga 9,2%. Pelemahan ini menambah tekanan pada sektor teknologi yang sensitif terhadap gejolak global.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 juga ikut melemah dengan penurunan 3,68% pada awal perdagangan. Sentimen negatif menyebar luas di pasar regional seiring kekhawatiran meningkatnya inflasi akibat lonjakan harga energi.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah sejumlah produsen minyak besar di Timur Tengah, termasuk Kuwait, Iran, dan United Arab Emirates memangkas produksi menyusul penutupan jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz. Akibatnya, kontrak berjangka Brent Crude Oil melonjak 16,1% menjadi US$107,61 per barel, sementara West Texas Intermediate naik sekitar 17,7% ke level US$107,02.

Menanggapi kenaikan harga minyak tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan "harga yang sangat kecil untuk dibayar" demi menghancurkan ancaman nuklir Iran. Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump juga menambahkan bahwa "hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya."

Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Index berada di level 25.328, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks di 25.757,29. Tekanan juga merambat ke pasar Amerika Serikat, dengan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 800 poin atau sekitar 1,75%.

Kontrak berjangka S&P 500 melemah 1,59%, sementara Nasdaq-100 turun sekitar 1,6%. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia.

 

(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bursa Asia Pagi Ini: Nikkei Kembali Cetak Rekor


Most Popular
Features