MARKET DATA

Bukan Fitch & Moodys, Purbaya Ungkap Yield SBN Naik Gegara Perang

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
06 March 2026 19:55
Menteri Keuangan Purbaya dalam kegiatan media briefing di Kemenkeu. (CNBC Indonesia/Zahwa Madjid)
Foto: Menteri Keuangan Purbaya dalam kegiatan media briefing di Kemenkeu. (CNBC Indonesia/Zahwa Madjid)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, penurunan outlook peringkat utang Indonesia oleh lembaga rating seperti Fitch dan Moody's tak signifikan menekan imbal hasil surat utang Indonesia.

Ia mengatakan, setelah dua lembaga pemeringkat kredit itu menurunkan outlook utang RI dari stabil menjadi negatif, efek terhadap tekanan imbal hasil atau yield surat berharga negara (SBN) benchmark 10 tahun hanya 2 basis points (bps) atau 0,02% poin.

"Kalau outlook aja enggak seberapa dampaknya. Kalau enggak salah 2 bps kenaikan surat utang 10 tahun," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Tekanan yang cukup besar terhadap kenaikan yield kata Purbaya justru ketika meletusnya perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Saat perang itu meletus, imbal hasil SBN tenor 10 tahun mengalami kenaikan 30 basis points atau setara 0,3%.

"Ketika ada gangguan perang itu yang membuat kenaikannya 30 basis points," ungkap Purbaya.

Meski ada tekanan yield, Purbaya mengatakan, pemerintah masih mampu mengelola imbal hasil surat utang dengan mengendalikan likuiditas di dalam negeri. Hal ini yang membuat tekanan di pasar SBN menurutnya tak tinggi sejauh ini.

"Keuangan akan manage cash-nya sehingga memastikan likuiditas di pasar cukup," paparnya.

Kendati begitu, penting dicatat, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia (SBN) untuk tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam enam bulan. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya aksi jual di pasar di tengah tinggi nya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Refinitiv, yield SBN tenor 10 tahun Indonesia pada penutupan perdagangan, Selasa (4/3/2026) mengalami kenaikan 1,14% di level 6,552%. Naik dari posisi di perdagangan sebelumnya, di level 6,478%. Artinya terjadi kenaikan sekitar 7,4 basis poin (bps) hanya dalam sehari.

Posisi penutupan kemarin Selasa juga tercatat menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2025 atau dalam enam bulan.

Jika ditarik lebih jauh, tekanan juga terlihat dibanding penutupan pekan lalu. Pada Jumat (27/2/2026), yield SBN 10 tahun masih berada di level 6,411%. Artinya, hanya dalam dua sesi perdagangan pertama pekan ini, yield telah melonjak sekitar 14,1 bps.

Kenaikan yield ini mencerminkan harga obligasi yang turun, menandakan investor cenderung melepas kepemilikan surat utang pemerintah di tengah naiknya risiko.

(arj/mij) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pasar Saham AS dan Harga Emas Ambruk Berjamaah, Ada Apa?


Most Popular
Features