MARKET DATA

Rupiah Loyo Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Naik ke Rp16.900

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 March 2026 15:03
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/3/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,15% ke level Rp16.900/US$.

Sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah memang sudah dibuka melemah di level yang sama dengan posisi penutupan. Meski demikian, sepanjang perdagangan rupiah sempat tertekan lebih dalam hingga menyentuh Rp16.930/US$ sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahannya.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia per pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,31% ke level 99,017. Meski begitu, pada perdagangan sebelumnya DXY sempat menguat tajam 0,55%.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama dari dinamika dolar AS di pasar global.

Dolar AS memang cenderung bergerak melemah pada perdagangan Jumat pagi, tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari setahun. Kondisi ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harapan akan meredanya konflik sebelumnya sempat muncul, namun kembali memudar setelah ketegangan meningkat lagi. Situasi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dan cenderung memburu aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Berkepanjangannya konflik di Timur Tengah juga dinilai berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi, memperkuat dolar AS, serta memperkecil peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS. Di saat yang sama, sentimen risk-off masih memberi ruang bagi dolar untuk tetap kuat dalam jangka pendek, terutama selama premi risiko di pasar energi masih tinggi.

Kondisi tersebut membuat ruang penguatan mata uang lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas. Sebaliknya, situasi ini justru membuka peluang pelemahan yang lebih besar bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, baik melalui kebijakan di pasar NDF luar negeri maupun lewat intervensi transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Loyo Awal Tahun, Dolar AS Tembus Rp16.715/US$


Most Popular
Features