Rupiah Ditutup Melemah 0,18%, Dolar AS Parkir di Rp16.880

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 04/03/2026 15:11 WIB
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Mata uang rupiah kembali harus melemah dari dolar Amerika Serikat (AS) di penutupan perdagangan hari ini, Rabu (4/3/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah Garuda ditutup pada zona merah dengan pelemahan sebesar 0,18% atau terdepresiasi ke level Rp16.880/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp16.930/US$ sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahannya menjelang penutupan.

Posisi ini juga menandai level penutupan terlemah rupiah sejak akhir Januari 2026, atau menjadi yang terburuk dalam lebih dari sebulan terakhir.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia per pukul 15.00 WIB justru terpantau berada di zona merah, melemah 0,13% ke level 98,923.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini masih banyak dipengaruhi sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Situasi tersebut membuat ketidakpastian di pasar global meningkat tajam dan mendorong pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam dampak dari meluasnya konflik di Timur Tengah.

Destry mengatakan intervensi yang tegas dan konsisten akan terus dilakukan BI, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Pelemahan rupiah masih aligned dengan regional, secara MTD melemah 0,51%, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$154,6 miliar pada akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp25,7 triliun," kata Destry dalam pernyataan resmi, Rabu (4/3/2026).

Di sisi lain, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan bahwa setiap pelemahan rupiah terhadap dolar AS memiliki dampak langsung terhadap tekanan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menjelaskan, setiap pelemahan Rp100 terhadap dolar AS berpotensi menambah defisit sekitar Rp0,8 triliun. Sementara itu, kenaikan US$1 pada Indonesian Crude Price (ICP) dapat menambah defisit sekitar Rp6,8 triliun, dan kenaikan yield surat utang pemerintah sebesar 0,1% berpotensi menambah beban APBN sekitar Rp1,9 triliun.

Meski demikian, Juda menekankan bahwa berdasarkan simulasi Kementerian Keuangan, dengan skenario yang masih dinilai cukup masuk akal untuk tekanan nilai tukar, harga minyak, dan kenaikan imbal hasil SBN, defisit APBN tahun ini diperkirakan tetap terjaga di kisaran 3% dan tidak melampaui batas aman sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Defisit APBN Januari 2026 Rp 54,6 Triliun hingga IHSG Ambles