Rupiah Menguat Tipis, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Level Rp16.850

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Selasa, 03/03/2026 15:08 WIB
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (3/3/2026).

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup menguat tipis 0,03% ke posisi Rp16.850/US$. Penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah mengalami pelemahan tajam 0,57% ke level Rp16.855/US$.


Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah sudah menunjukkan penguatan. Rupiah dibuka terapresiasi 0,15% ke posisi Rp16.830/US$. Meski sempat mengalami tekanan di tengah perdagangan, rupiah akhirnya mampu tetap menguat dalam melawan greenback.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.830/US$ hingga Rp16.880/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB masih bertahan di zona hijau dengan penguatan 0,48% ke level 98,861.

Dinamika dolar AS di pasar global masih menjadi salah satu faktor utama pergerakan rupiah di perdagangan hari ini.

Dolar AS kembali menunjukkan perannya sebagai aset safe haven setelah serangan militer AS ke Iran memicu peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan dolar ini menjadi sinyal bahwa di tengah ketidakpastian global, investor tetap memburu mata uang AS sebagai tempat berlindung yang dinilai paling aman.

Selain faktor safe haven, kuatnya dolar juga ditopang oleh kedalaman pasar keuangan AS, terutama pasar obligasi pemerintah AS atau US Treasury, yang dinilai masih menjadi tujuan utama arus dana global dalam jumlah besar ketika pelaku pasar mengurangi risiko.

Kondisi ini pada gilirannya membuat banyak mata uang negara lain, termasuk rupiah, berada dalam tekanan. Di tengah penguatan greenback dan meningkatnya sikap hati-hati investor global, ruang penguatan rupiah pun menjadi terbatas hingga tingginya volatilitas di sepanjang perdagangan. 

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus mencermati pergerakan pasar keuangan global secara saksama.

BI memandang eskalasi konflik tersebut telah mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global, sehingga respons kebijakan perlu dilakukan secara tepat untuk menjaga stabilitas, termasuk memastikan nilai tukar rupiah tetap bergerak sesuai fundamentalnya.

Dalam upaya tersebut, BI menegaskan akan tetap hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, bank sentral juga akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan agar transmisi suku bunga berjalan lebih efektif.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Defisit APBN Januari 2026 Rp 54,6 Triliun hingga IHSG Ambles