CKPN Bengkak Jadi Rp 8 T, Laba SMBC Indonesia Anjlok 82%
Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) mencatat penurunan tajam laba pada 2025 seiring melonjaknya pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 505,56 miliar, merosot signifikan dibandingkan Rp 2,81 triliun pada 2024.
Dari lini bisnis utama, bank masih mencatat pertumbuhan. Pendapatan bunga dan pendapapatan syariah naik 2,74% secara tahunan (yoy). Lalu beban bunga dan beban syariah turun 0,52% yoy, sehingga pendapatan bunga bersih turun 0,68%.
Kendati demikian, bank melaporkan lonjakan beban pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang mencapai Rp 8,04 triliun pada 2025, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp 3,89 triliun pada 2024.
Jika ditelusuri lebih dalam, pembengkakan CKPN bukan berasal dari kredit bank induk. Pada pos pinjaman yang diberikan, CKPN justru turun menjadi Rp 3,51 triliun pada 2025 dari Rp 3,92 triliun pada 2024.
Sebaliknya, lonjakan signifikan terjadi pada piutang pembiayaan. CKPN pada pos ini melonjak menjadi Rp 3,64 triliun dari Rp 1,97 triliun pada 2024.
Kenaikan pencadangan di lini pembiayaan ini menjadi faktor utama yang menekan profitabilitas konsolidasi SMBC Indonesia sepanjang 2025.
Dengan piutang pembiayaan konsolidasi sebesar Rp 30,37 triliun per akhir 2025, rasio pencadangan terhadap portofolio pembiayaan mendekati 12%, mencerminkan pendekatan yang lebih konservatif dalam mengantisipasi risiko kualitas aset.
Sementara itu, berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025, total pinjaman yang diberikan dan pembiayaan syariah mencapai Rp 152,31 triliun, meningkat dari Rp 146,81 triliun pada 2024. Total aset bank tumbuh menjadi Rp 245,85 triliun pada akhir 2025 dari Rp 241,10 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) yang terdiri dari simpanan nasabah tercatat sebesar Rp 121,28 triliun, naik dari Rp 111,99 triliun pada 2024
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]