Perang AS-Israel & Iran Panaskan Minyak, Brent Tembus US$ 80
Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (3/3/2026) pagi, melanjutkan reli tajam dalam beberapa hari terakhir. Eskalasi konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mendorong kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, terutama di jalur vital Selat Hormuz.
Berdasarkan Refinitiv per pukul 12.55 WIB, kontrak Brent crude berada di US$80,32 per barel, melonjak 3,24% dibandingkan penutupan Senin (2/3/2026) di US$73,2. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$72,41 per barel, naik 2,60% dari posisi sebelumnya di US$71,23.
Penguatan ini memperpanjang tren kenaikan sejak pekan lalu. Pada 27 Februari 2026, Brent masih berada di US$72,48 per barel dan WTI di US$67,02.
Artinya, dalam tiga sesi perdagangan, Brent telah menguat hampir 10%, sedangkan WTI melonjak lebih dari 8%. Bahkan pada perdagangan intraday sebelumnya, Brent sempat menyentuh level di atas US$82 per barel-tertinggi sejak awal 2025.
Sentimen utama datang dari memanasnya konflik di Timur Tengah. Serangan udara yang meluas serta ancaman terhadap infrastruktur energi dan kapal tanker di kawasan Teluk meningkatkan premi risiko (risk premium) di pasar minyak.
Fokus pelaku pasar tertuju pada potensi terganggunya distribusi melalui Strait of Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global setiap harinya.
Selat tersebut juga menjadi rute penting pengiriman bahan bakar dan gas alam cair (LNG) menuju pasar utama Asia seperti China dan India. Laporan mengenai meningkatnya risiko keamanan membuat sejumlah kapal tanker menghindari rute tersebut, sementara perusahaan asuransi disebut mulai membatasi perlindungan untuk pelayaran di wilayah itu. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran tersendatnya arus logistik energi dunia.
Di sisi lain, pasar juga mencermati risiko terhadap fasilitas pengolahan minyak di kawasan. Timur Tengah merupakan pemasok utama produk olahan seperti solar dan bensin.
Ketika kilang atau infrastruktur energi berada dalam ancaman, dampaknya tidak hanya terasa pada harga minyak mentah, tetapi juga pada produk turunannya.
Dengan belum terlihatnya tanda-tanda de-eskalasi, pasar memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan. Selama konflik masih berlangsung dan risiko gangguan pasokan membayangi, harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(emb/emb) Add
source on Google