MARKET DATA

Breaking, IHSG Lompat 1% Lebih Dekati Level 8.100

Redaksi,  CNBC Indonesia
03 March 2026 09:41
Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% pada perdagangan pagi ini, Selasa (3/3/2026). Kenaikan pagi ini terjadi setelah indeks melemah signifikan pada perdagangan kemarin dengan koreksi 2,65%.

Pada perdagangan intraday sesi pertama IHSG melesat 1,01% atau naik 81 poin ke titik tertinggi 8.098,39 atau nyaris menyentuh level psikologis 8.100.

Meski demikian, sesaat setelahnya IHSG langsung memangkas penguatan secara signifikan dan hingga pukul 9.40 WIB kenaikan IHSG tersisa 0,3%.

Sebanyak 188 saham turun, 437 naik, dan 114 tidak bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 10,49 triliun, melibatkan 11,56 miliar saham dalam 716.668 kali transaksi.

Nyaris seluruh sektor perdagangan menguat, dengan pelemahan hanya dicatatkan oleh sektor konsumer non primer. Adapun lonjakan terbesar dicatatkan oleh sektor energi dan konsumer primer.

Saham tambang masih menjadi penopang IHSG. Secara spesifik emiten dengan kontribusi terbesar atas penguatan IHSG pagi ini termasuk FILM, ANTM dan MDKA.

Saham sektor energi menjadi yang paling ramai diperdagangkan, dengan transaksi terbesar di bursa hari ini dicatatkan oleh saham BUMI, MEDC dan ENRG.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan berat pada hari ini. Ketidakpastian ekonomi global, memanasnya situasi di Timur Tengah serta data ekonomi dari dalam negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 melonjak. Kenaikan harga terutama dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah bahan pangan menjelang dan selama Ramadan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa inflasi bulanan Februari 2026 mencapai 0,68%, tertinggi sejak April 2025.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tercatat sebesar 4,76% (yoy) atau tertinggi sejak Maret 2023 atau hampir dua tahun terakhir.

Selanjutnya, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali mencatatkan hasil positif pada awal tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Januari 2026 mengalami surplus sebesar US$ 960 juta. Capaian ini memperpanjang tren surplus yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2021.

Nilai surplus terbentuk dari ekspor yang mencapai US$ 22,16 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$ 21,20 miliar. Selisih tersebut menjaga posisi neraca perdagangan tetap berada di zona positif pada awal 2026.

Lalu, lembaga pemeringkat global S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia pada Februari 2026 masih berada dalam fase ekspansi. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur tercatat sebesar 53,8, menandakan kondisi sektor industri yang terus membaik.

Capaian tersebut meningkat dibandingkan posisi Januari yang berada di level 52,6. Dalam keterangan resminya pada Senin (2/3/2026), S&P Global menyebutkan kenaikan indeks menunjukkan perbaikan yang lebih kuat pada kesehatan sektor produksi barang di Indonesia.

Adapun,

Perang udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran meluas pada Senin tanpa tanda-tanda akan segera berakhir. Israel menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi tersebut dapat berlangsung selama beberapa minggu dan belum jelas siapa yang kini memimpin Iran, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan terarah pada awal kampanye AS-Israel akhir pekan lalu.

Serangan terhadap Iran telah menyeret kawasan Teluk ke dalam perang, menewaskan puluhan orang di Iran, Israel, dan Lebanon, mengacaukan transportasi udara global, serta menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz-jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia di dekat pantai Iran-sehingga mendorong lonjakan harga minyak.

Sementara itu, pasar Asia-Pasifik dibuka lebih rendah pada hari Selasa, karena konflik di Timur Tengah, khususnya yang terjadi di Iran, terus berlanjut untuk hari keempat.

Harga minyak melanjutkan kenaikan setelah Iran dilaporkan mengatakan telah menutup Selat Hormuz, dengan harga minyak mentah berjangka AS naik 0,15% menjadi $71,33, sementara Brent naik 7,14% menjadi $78,07 per barel.

Lebih dari 14 juta barel per hari rata-rata melewati Selat tersebut tahun lalu, yang mencakup hampir sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut, menurut data Kpler.

Indeks Kospi Korea Selatan turun hampir 2%, tetapi saham sektor pertahanan mencatatkan kenaikan besar, dengan Hanwha Aerospace naik 11% pada pembukaan.

Indeks S&P/ASX 200 Australia memulai hari dengan penurunan 0,57%, setelah menjadi salah satu dari sedikit pasar pada hari Senin yang mencatatkan kenaikan tipis.

Indeks Nikkei 225 Jepang memperpanjang kerugian dan turun 0,42%, sementara Topix turun 0,76%.

Kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong berada di 26.109, lebih tinggi dari penutupan terakhir HSI di 26.059,85.

Semalam di AS, S&P 500 naik tipis 0,04% setelah pulih di akhir sesi. Nasdaq Composite naik 0,36%, pulih dari kerugian 1,6%.

Dow Jones Industrial Average turun 73,14 poin, atau 0,15%, menetap di 48.904,78. Pada titik terendahnya, Dow turun hampir 600 poin.

(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News! IHSG Ambruk 3% Lebih, Tinggalkan Level 8.000


Most Popular
Features