Rupiah Ditutup Melemah 0,55%, Dolar AS Naik Jadi Rp16.855

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 15:05 WIB
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan awal pekan ini dengan pelemahan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Seiring menguatnya dolar AS di pasar global, pasca serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan lalu.

Melansir data Refinitiv, pada perdagangan har ini Senin (2/3/2026), rupiah ditutup di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,60% atau terdepresiasi ke level Rp16.860/US$. Level ini sekaligus menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir.


Pelemahan rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan pagi. Rupiah dibuka melemah 0,30% di level Rp16.810/US$, lalu tekanan berlanjut hingga penutupan sore hari ini.

Pergerakan rupiah hari ini banyak dipengaruhi oleh respon pelaku pasar terhadap meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah, pasca serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Selain itu, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap aset-aset AS di sejumlah negara sekitarnya, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah.

Kondisi tersebut membuat penguatan pada dolar AS di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat cukup tajam sebesar 0,84% ke level 98,429. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar yang tengah memburu aset berdenominasi dolar AS, sehingga menopang penguatan DXY.

Menguatnya indeks dolar tersebut yang pada akhirnya memberi tekanan pada mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati rilis inflasi Februari 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mencatat inflasi Februari 2026 mencapai 0,68% secara bulanan (month to month/mtm). Inflasi ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026.

"Pada bulan Februari tahun 2026 terjadi inflasi sebesar 0,68% atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers BPS, Senin (2/3/2026).

Sementara itu, secara tahunan inflasi Februari tercatat sebesar 4,76% (year on year/yoy). Angka ini menandai laju inflasi tahunan tertinggi sejak Maret 2023, saat inflasi Indonesia sempat mencapai 4,97%.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Defisit APBN Januari 2026 Rp 54,6 Triliun hingga IHSG Ambles