Analisis Penyebab IHSG Ambruk 2% Lebih

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 09:23 WIB
Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka terkoreksi dalam dan kehilangan 142,58 poin atau ambruk 1,73% ke level 8.092,90 pada pembukaan perdagangan pagi ini, Senin (2/3/2026).

Sebanyak 556 saham turun, 56 naik, dan 103 tidak bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 708,27 miliar, melibatkan 976,34 juta saham dalam 104.578 kali transaksi.




Satu menit setelah pembukaan IHSG tertekan lebih dalam dan merosot lebih dari 2%. 

Adapun penyebab anjloknya IHSG hari ini adalah imbas dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang makin meningkat menyusul kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa operasi tempur di Iran akan terus berlanjut setelah tiga personel militer AS tewas. Pernyataan tersebut memperburuk sentimen pasar global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven.

Nyaris seluruh sektor perdagangan melemah, kecuali sektor energi yang tercatat mengalami kenaikan tipis, dengan sektor barang baku yang sebagian konstituennya berisikan emiten tambang emas mencatatkan pelemahan paling kecil hari ini. Sedangkan sektor konsumer non primer dan properti tertekan paling dalam.

Saham-saham tambang emas dan emiten minyak dan gas (migas) tercatat menjadi penolong IHSG untuk todak jatuh lebih dalam, sedangkan saham big caps dan emiten konglomerasi kompak menjadi beban pergerakan IHSG ke zona merah.

Tiga emiten perbankan terbesar RI - BBRI, BMRI dan BBCA - tercatat menjadi beban utama pelemahan IHSG dengan kontribusi pelemahan hingga 35 indeks poin. Saham milik taipan Prajogo Pangestu yang juga ikut menjadi pemberat utama IHSG adalah BREN, BRPT dan TPIA.

Memasuki pekan pertama Maret 2026, pelaku pasar akan menghadapi kombinasi sentimen geopolitik dan rilis data makroekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar global.

Kondisi Timur Tengah akan memicu ketidakpastian global dan dikhawatirkan membuat investor asing kabur dari Emerging Markets, terutama Indonesia.

Bursa Asia-Pasifik ambruk pada perdagangan Senin, (2/3/2026). Harga minyak melonjak lebih dari 8% dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate dan Brent masing-masing diperdagangkan di level US$72,52 dan US$79,04 per barel. Sementara itu, kontrak emas naik 2,3% karena investor memburu aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 anjlok hampir 2% pada pembukaan perdagangan, sementara TOPIX turun 2,1%. Meski demikian, saham perusahaan pertahanan seperti Mitsubishi Heavy Industries, Kawasaki Heavy Industries, dan IHI Corporation justru menguat lebih dari 1%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,38% pada awal perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Index berada di level 26.465, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 26.630,54.

Pasar saham Korea Selatan ditutup karena libur nasional. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka indeks saham juga melemah dengan futures Dow Jones Industrial Average turun 517 poin atau sekitar 1%, sementara S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing merosot sekitar 1% dan sedikit lebih dari 1%.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sentimen ini Bikin IHSG & Rupiah Memerah Sambut Libur Panjang