Internasional

Minyak Membara karena Perang Iran: Tembus US$ 80-OTW US$ 100 per Barel

sef, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 07:35 WIB
Foto: Minyak di tengah serangan AS-Israel ke Iran (Infografis Aristya Rahadian Krisabella)

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak melonjak di Asia Senin (2/3/2026) menyusul gejolak di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Pada perdagangan awal, minyak jenis Brent naik menjadi sedikit di atas US$80 per barel dibandingkan dengan harga penutupan US$72,87 pada Jumat.

Sebenarnya harga Brent, patokan internasional untuk minyak mentah, telah naik sejak minggu lalu saat Presiden AS mengancam serangan ke Iran di tengah negosiasi nuklir. Akibat gejolak ini, transportasi pengangkutan 20% minyak global melalui Selat Hormuz yang dikuasai Iran bisa terganggu.


"Dalam situasi seperti itu, biaya asuransi menjadi sangat mahal," kata Kepala Riset Timur Tengah dan OPEC+ Kpler, Amena Bakr, dimuat AFP.

"Harga bisa mencapai US$90," ujarnya.

Hal sama juga dikatakan analis di Rystad Energy, dalam sebuah catatan, Jorge Leon. Meskipun beberapa infrastruktur alternatif dapat digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, dampak bersih dari penutupannya akan mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah sebesar 8 juta hingga 10 juta barel per hari.

Secara teori, negara-negara pengimpor minyak memiliki cadangan, dengan anggota OECD diharuskan untuk mempertahankan stok minyak selama 90 hari. Tetapi, ujarnya, harga di atas US$100 tidak dapat dikesampingkan.

"Jika blokade Selat Hormuz berlanjut, tidak peduli seberapa banyak kapasitas cadangan (dalam cadangan strategis) tidak akan mampu mengisi kesenjangan itu. Kesenjangan itu terlalu besar," kata Bakr.

Harga gas juga diperkirakan akan melonjak pada hari Senin. Pasalnya, Qatar uang menjadi eksportir utama gas alam cair, juga terkena serangan balasan Iran.

Qatar menjadi basis pangkalan militer Amerika selain beberapa negara lain, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirates Arab (UEA) serta Irak. Di sana berdiri pangkalan terbesar militer AS di Timur Tengah, Al Udeid.

Perlu diketahui, terakhir kali harga minyak mentah naik di atas US$100 adalah pada awal perang di Ukraina. Harga gas juga melonjak, yang memainkan peran utama dalam periode kenaikan harga yang berkepanjangan.

"Kenaikan harga bensin, harga energi yang lebih tinggi, peningkatan biaya pengiriman, dan hilangnya pendapatan untuk transportasi udara dapat berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi," kata ekonom IESEG School of Management Paris, Eric Dor.

"Jika hanya berlangsung selama tiga hari, itu tidak serius. Tetapi jika berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama, maka akan berdampak resesi tambahan," katanya.

Saham dan Trump

Di pasar saham, beberapa sektor mungkin akan diuntungkan pada hari Senin, seperti sektor pertahanan. Tetapi Dor justru mengatakan ia memperkirakan akan terjadi "penurunan" harga saham, terutama di sektor transportasi udara, transportasi maritim, dan pariwisata.

Sementara itu, analis lain di Kpler, Michelle Brouhard, menggambarkan harga minyak yang tinggi sebagai "titik lemah Trump". Menurutnya, Iran kemungkinan akan berusaha mempertahankan harga minyak mentah yang tinggi untuk memaksa Trump mundur, karena ia telah menjanjikan harga rendah kepada para pemilih Amerika Serikat sebelum pemilihan paruh waktu di akhir tahun ini.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perak dan Peta Baru Ekonomi Global