Drama Akuisisi Warner Bross Memanas: Paramount "Gebuki" Netflix
Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan sengit memperebutkan salah satu perusahaan media terbesar di Amerika Serikat (AS) akhirnya memasuki babak akhir. Paramount Skydance dilaporkan siap mengambil alih Warner Bros. Discovery setelah Netflix memutuskan tidak menaikkan tawaran akuisisinya.
Keputusan ini mengakhiri salah satu perang penawaran (bidding war) terbesar di industri hiburan dalam beberapa dekade terakhir. Jika transaksi ini rampung, berbagai aset media ternama seperti CNN, Nickelodeon, hingga HBO akan berada di bawah kendali keluarga Larry Ellison, miliarder teknologi sekaligus pendiri Oracle.
Netflix Mundur
Netflix menyatakan tidak akan menyamai tawaran terbaru dari Paramount Skydance. Ini setelah dewan direksi Warner Bros. Discovery menyebut proposal Paramount sebagai "penawaran yang lebih unggul" sesuai ketentuan perjanjian merger sebelumnya dengan Netflix.
Dalam pernyataan resminya, Netflix menegaskan bahwa kesepakatan yang mereka ajukan sebenarnya memiliki jalur jelas menuju persetujuan regulator dan berpotensi menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham. Namun, perusahaan menilai harga yang harus dibayarkan untuk menandingi tawaran Paramount sudah tidak lagi menarik secara finansial.
"Transaksi ini selalu menjadi sesuatu yang 'menarik untuk dimiliki' pada harga yang tepat, bukan sesuatu yang 'harus dimiliki' dengan harga berapa pun," tegas Netflix, dimuat AFP, Jumat (27/2/2026).
Dengan tidak adanya tawaran balasan dari Netflix, dewan Warner Bros. Discovery kini dapat membatalkan perjanjian dengan raksasa streaming tersebut. Perusahaan melanjutkan proses dengan Paramount.
Nilai Fantastis
Dalam proposal terbarunya, Paramount menawarkan harga US$31 per saham secara tunai, naik US$1 dari tawaran sebelumnya, yang menilai Warner Bros. Discovery sekitar US$108 miliar (sekitar Rp1.674 triliun dengan asumsi kurs Rp15.500/US$). Tak hanya itu, Paramount juga menawarkan biaya kompensasi pembatalan regulasi sebesar US$7 miliar jika kesepakatan gagal karena alasan hukum.
Perusahaan juga bersedia menanggung biaya pembatalan senilai US$2,8 miliar yang seharusnya dibayarkan Warner Bros. kepada Netflix. Dukungan finansial tambahan datang dari pendiri Oracle, Larry Ellison, yang menyatakan siap menyuntikkan dana jika diperlukan demi memenuhi persyaratan solvabilitas dari bank pemberi pinjaman.
Larry Ellison merupakan ayah dari CEO Paramount, David Ellison, yang memimpin Paramount Skydance. Ia dikenal sebagai sekutu lama Presiden AS Donald Trump.
Sorotan Gedung Putih
Proses akuisisi ini bahkan menarik perhatian Gedung Putih. Presiden Donald Trump sempat menyatakan dirinya memiliki peran dalam hasil akhir kesepakatan tersebut.
Baik Paramount maupun Netflix disebut berupaya menjaga hubungan baik dengan pemerintahan Trump selama proses berlangsung. Di tengah negosiasi, sejumlah anggota parlemen Partai Republik mengkritik Netflix, menuding platform tersebut mempromosikan konten pro-transgender, meski dibantah Co-CEO Netflix, Ted Sarandos.
Beberapa jam sebelum mundur dari persaingan, Sarandos terlihat memasuki Gedung Putih untuk bertemu pejabat pemerintah. Meski demikian, ia tak bertemu Trump secara langsung.
Keterlibatan Timur Tengah
Tawaran Paramount juga melibatkan pendanaan dari dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) milik Arab Saudi, Qatar, dan Abu Dhabi. Keterlibatan ini berpotensi menambah lapisan pengawasan dari regulator AS.
Jika merger terjadi, Paramount dan Warner Bros. akan menggabungkan layanan streaming HBO Max dan Paramount+, sekaligus menyatukan dua studio film terbesar Hollywood. Selain itu, CNN dan CBS News akan berada di bawah satu struktur kepemilikan yang sama, menciptakan kekuatan media baru dengan jangkauan global.
(sef/sef) Add
source on Google