Bos Mansek Ungkap Isu MSCI Gak Bikin IPO Garapannya Mundur
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Mandiri Sekuritas Indonesia (Mansek) mengungkap bahwa tidak ada calon emiten di pipeline Initial Public Offeringnya (IPO) yang mundur meski terjadi volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat isu MSCI.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana mengatakan, saat ini, anggota bursa tersebut masih memiliki lebih dari enam perusahaan dalam pipeline IPO tahun ini. Jumlah pipeline IPO tahun ini pun justru lebih banyak dibandingkan tahun lalu.
"Jadi, bahkan setelah kondisi MSCI hingga Moody's ini, tidak ada satu pun dari calon emiten yang kita kerjakan itu yang hold atau mungkin mundur (dari IPO)," jelas Oki dalam buka puasa bersama, di Jakarta, Rabu, (25/2/2026).
Menurutnya, reformasi pasar yang tengah berjalan justru diyakini akan membuat pasar modal Indonesia semakin kuat dan menarik bagi investor. Dengan aturan dan struktur yang semakin jelas, portofolio investor institusi dinilai akan semakin besar dialokasikan ke pasar domestik.
"Semakin banyak, semakin besar (aset calon emitennya), itu semakin banyak investor institusi yang bisa masuk. Jadi, kalau semakin besar, yang institusi akan jauh lebih investasi untuk masuk," jelas Oki.
Sebaliknya, IPO dengan ukuran terlalu kecil justru dinilai lebih menantang karena keterbatasan partisipasi investor institusi domestik. Faktor skala aset membuat banyak institusi memiliki batas minimal investasi sehingga sulit masuk ke IPO berukuran kecil.
Ia menambahkan, dengan threshold yang lebih tinggi serta didukung fundamental dan cerita pertumbuhan (growth story) yang kuat, baik investor domestik maupun asing akan lebih tertarik untuk masuk. Menurutnya, kondisi tersebut akan membuat struktur pasar menjadi lebih baik dan berkualitas.
Oki menilai pipeline IPO yang sedang digarap saat ini tergolong sangat sehat untuk direalisasikan tahun ini. Ia bahkan menyebut kualitas calon emiten dalam antrean IPO tersebut sangat baik.
Lebih lanjut, ia memandang tahun ini sebagai tahun transisi bagi pasar IPO. Penurunan imbal hasil obligasi (bond yield) ke kisaran 6% membuat instrumen saham, khususnya saham perbankan dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, menjadi semakin menarik.
Menurutnya, bagi manajer investasi, pilihan antara menempatkan dana di obligasi dengan yield sekitar 6% atau di saham
dengan potensi imbal hasil sekitar 9% menjadi pertimbangan penting. Kondisi ini mendorong terjadinya peralihan dana dari instrumen pendapatan tetap ke ekuitas.
Ia menambahkan, masih terdapat peluang penurunan suku bunga sebesar 25 hingga 50 basis poin yang dapat semakin memperkuat momentum tersebut. Karena itu, ia menyebut tahun ini sebagai fase reset di mana dana pensiun dan investor institusi mulai melakukan switching portofolio demi mendapatkan imbal hasil optimal.
Di sisi lain, Oki melihat kinerja korporasi yang sebelumnya tertekan mulai menunjukkan pemulihan. Setelah mencatat kontraksi pertumbuhan sekitar 12% pada tahun lalu, ia memperkirakan tahun ini banyak perusahaan akan kembali membukukan pertumbuhan positif.
Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG dapat mencapai 9.350 apabila bullish dan 7.670 apabila bearish. Beberapa sektor dengan proyeksi pertumbuhan yang cukup baik, adalah: komoditas, telekomunikasi, internet/digital, konsumer, ritel, transportasi, dan bahan bangunan.
(ayh/ayh) Add
source on Google