Rupiah Menguat Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Turun Jadi Rp16.860
Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (20/2/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp16.860/US$ atau menguat tipis 0,06%. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah setelah pada perdagangan sebelumnya juga ditutup menguat.
Sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah sejatinya sudah menguat 0,18% di level Rp16.840/US$. Namun pergerakan rupiah sempat berbalik arah dan masuk zona merah dengan melemah 0,21% hingga menyentuh Rp16.905/US$, sebelum akhirnya kembali menguat dan ditutup di zona hijau.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,03% ke level 97,901. Meski terkoreksi sore ini, pada perdagangan sebelumnya DXY ditutup menguat 0,23%.
Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit US$1,5 miliar atau 0,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang 2025.
Defisit tersebut lebih rendah dibanding 2024 yang mencapai US$8,6 miliar atau 0,6% dari PDB.
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang seiring dengan kinerja ekspor yang meningkat, khususnya ekspor produk manufaktur," dikutip dari siaran pers BI, Jumat (20/2/2026).
Menyempitnya defisit NPI juga ditopang surplus neraca pendapatan sekunder yang lebih tinggi, seiring meningkatnya penerimaan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI). Adapun pada kuartal IV-2025, NPI tercatat surplus US$6,1 miliar, ditopang perbaikan transaksi berjalan serta kenaikan remitansi PMI.
Dari eksternal, dolar AS masih berada dalam tren penguatan secara mingguan. DXY bertahan di level terkuatnya dalam satu bulan terakhir dan masih berada di jalur kenaikan lebih dari 1% dalam sepekan, yang berpotensi menjadi performa terkuatnya dalam lebih dari empat bulan.
Kondisi tersebut mencerminkan permintaan yang masih tinggi terhadap aset berdenominasi dolar, yang pada gilirannya dapat menekan mata uang lain, termasuk rupiah.
Penguatan dolar dalam beberapa hari terakhir salah satunya ditopang nada kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang dinilai masih cenderung ketat, setelah risalah rapat menunjukkan sejumlah pejabat membuka ruang kenaikan suku bunga jika inflasi kembali bertahan tinggi.
Sikap ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko dan meningkatkan permintaan dolar.
(evw/evw)