MARKET DATA

AS - Iran Siaga 1, Harga Minyak Memanas

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
20 February 2026 10:45
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melanjutkan kenaikan pada perdagangan Jumat pagi (20/2/2026), menjaga posisi tertinggi dalam enam bulan terakhir. Hingga pukul 09.50 WIB, kontrak Brent (LCOc1) tercatat di US$ 71,79 per barel, naik tipis dari posisi penutupan Kamis di US$ 71,66. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) berada di US$ 66,78 per barel, menguat dari US$ 66,43, berdasarkan data Refinitiv.

Dalam sepekan terakhir, reli terlihat cukup konsisten. Brent bergerak dari US$ 67,42 pada 17 Februari menjadi US$ 71,79 hari ini. WTI pun naik dari US$ 62,33 ke US$ 66,78 dalam periode yang sama. pasar tengah membangun premi risiko yang baru.

Melansir Reuters, sentimen utama datang dari memanasnya tensi Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump memberi tenggat 10-15 hari bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Pernyataan keras dari Washington memicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan, terutama jika konflik meluas ke kawasan Teluk.

Iran berada di sisi utara Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global. Setiap eskalasi di wilayah tersebut langsung diterjemahkan pasar sebagai risiko terhadap arus distribusi energi dunia. Rencana latihan militer laut bersama Rusia yang dilaporkan akan digelar Iran turut mempertebal kekhawatiran.

Dari sisi fundamental, data persediaan juga memberi dorongan tambahan. Stok minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan turun signifikan seiring peningkatan utilisasi kilang dan ekspor. Di saat yang sama, ekspor Arab Saudi pada Desember tercatat turun menjadi sekitar 6,99 juta barel per hari, level terendah sejak September. Kombinasi ini membuat pasokan global terlihat lebih ketat dibanding awal tahun.

Pergerakan inflasi Jepang yang melambat ke 2% pada Januari memang membuka ruang kebijakan moneter tetap longgar. Suku bunga rendah di negara importir energi besar biasanya menopang permintaan. Namun untuk saat ini, arah harga minyak lebih ditentukan oleh dinamika geopolitik ketimbang faktor makro.

Dengan posisi harga yang sudah menyentuh level tertinggi dalam enam bulan, pasar kini menunggu perkembangan diplomasi Washington-Teheran. Jika tenggat waktu berakhir tanpa kesepakatan, volatilitas berpotensi meningkat dan premi risiko bisa kembali bertambah.

CNBC Indonesia

(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ada Profit Taking, Harga Minyak Dunia Melemah ke US$69,11 per Barel


Most Popular
Features