IHSG Hari Ini Turun 0,42%, Saham Bank dan Konglomerat Koreksi

mkh, CNBC Indonesia
Kamis, 19/02/2026 16:35 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 35,29 poin atau turun 0,42% ke level 8.274,94 pada perdagangan hari ini, Kamis (19/2/2026).

Sebanyak 412 saham turun, 309 naik, dan 237 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 21,46 triliun, melibatkan 43,13 miliar saham dalam 2,82 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun turun menjadi Rp 14.983 triliun. 

IHSG pada awal pembukaan sempat berada di zona hijau. Indeks sempat menyentuh level tertinggi hari ini di 8.376,2. Akan tetapi menjelang akhir sesi 1, IHSG terkoreksi hingga akhirnya bertahan di zona merah hingga akhir perdagangan. 


Mengutip Refinitiv, sektor teknologi, finansial, dan utilitas mengalami penurunan paling dalam. Hal itu seiring dengan koreksi di saham Bank Mandiri (BMRI) dan DCI Indonesia (DCII). 

Kedua saham tersebut menjadi pemberat utama dengan bobot -15,53 indeks poin dan -12,71 indeks poin. Selain itu saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga mengganjal IHSG di zona merah. 

Selain itu, saham-saham Prajogo Pangestu juga ikut membebani IHSG, seperti Barito Renewables Energy (BREN), Barito Pacific (BRPT), dan Chandra Asri Pacific (TPIA).

Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan, BI Rate, di level 4,75% pada Februari 2026. Ini adalah kali kedua BI menahan suku bunga acuan sepanjang tahun ini.

"Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (19/2/2026).

Ke depan, Perry melanjutkan, BI akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini dengan tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut sejalan dengan prakiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam sasaran 2,5±1% dan upaya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Kebijakan makroprudensial BI tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth) melalui peningkatan kredit/pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas pemerintah, serta mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan melalui implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

"Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sinergi dalam perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, dan peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran," tegasnya.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Investasi BPJamsostek Hadapi Gejolak Pasar, Saham Jadi Pilihan?