BI Tahan Suku Bunga: Rupiah Balik Menguat, Dolar Turun ke Rp16.870
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (19/2/2026). Setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.870/US$ atau terapresiasi 0,03%. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah yang terjadi dalam tiga hari perdagangan sebelumnya.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak volatil dalam rentang Rp16.870-Rp16.933/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,07% ke level 97,637, setelah pada perdagangan sebelumnya menguat tajam 0,56% di posisi 97,703.
Pergerakan rupiah hari ini berlangsung seiring rilis hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada 18-19 Februari 2026. BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap 3,75% dan suku bunga Lending Facility 5,50%.
"Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini dalam upaya stabilisasi di tengah kondisi global yang tidak stabil," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (19/2/2026).
Keputusan tersebut sejalan dengan konsensus CNBC Indonesia yang dihimpun dari 12 lembaga/institusi, yang seluruhnya memproyeksikan BI kembali menahan suku bunga pada RDG kali ini. Ini menjadi kali kelima BI mempertahankan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025.
Di sisi lain, BI menilai situasi pasar keuangan global masih diliputi ketidakpastian yang bersumber dari Amerika Serikat, tercermin dari pergerakan arus modal hingga dinamika nilai tukar.
Perry menjelaskan, ruang penurunan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate) masih terbuka seiring pasar tenaga kerja yang dinilai masih lemah, sementara imbal hasil US Treasury tenor panjang tetap tinggi karena peningkatan risiko fiskal AS.
"Aliran modal ke negara berkembang terjadi selektif, terutama ke saham dan obligasi jangka pendek," jelas Perry dalam konferensi pers, Kamis (19/2/2026).
Perry menambahkan, indeks dolar AS secara umum melemah terhadap mayoritas mata uang, namun berbeda di Asia karena justru menguat seiring perkembangan nilai tukar di China, di tengah permintaan emas yang terus meningkat.
"Ke depan ketidakpastian global tetap tinggi sehingga perlu kewaspadaan dan respons kebijakan untuk dorong pertumbuhan lebih tinggi," kata Perry.
(evw/evw) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]