MARKET DATA

RI Dibayangi Ketidakpastian Global, OJK Ungkap Dampaknya

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
19 February 2026 13:45
Ilustrasi OJK (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Ilustrasi OJK (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, sektor industri jasa keuangan Indonesia masih dihantui oleh ketidakpastian global yang ikut mempengaruhi perekonomian nasional.

Pejabat Sementara (Pjs) Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan risiko global terus meningkat seiring dengan berlanjutnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi, serta meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap potensi pembentukan asset price bubble pada sektor artificial intelligence.

"Saat ini kita masih melihat secara global, masih banyak sekali ketidakpastian yang sangat tinggi," ujarnya dalam acara Economic Outlook 2026 yang digelar oleh OJK Institute secara virtual, Kamis (19/2/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong peningkatan volatilitas di pasar keuangan global, memperpanjang fase kebijakan moneter yang ketat, dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global ke level di bawah rata-rata historis jangka panjang.

Meskipun demikian, wanita yang akrab disapa Kiki ini menilai, di tengah tantangan global, kinerja perekonomian Indonesia tetap terjaga dan menunjukkan ketahanan yang solid. Salah satunya, pertumbuhan ekonomi nasional secara konsisten berada di kisaran 5%.

"Sepanjang tahun 2025, perekonomian domestik tumbuh sebesar 5,11% Ini lebih tinggi dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya, dan juga kita melihat bagaimana di Q4 tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,39% year-on-year. Ini merupakan yang salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20," ungkapnya.

Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tumbuh sebesar 7,92% secara tahunan pada periode yang sama. Capaian tersebut tertinggi sejak kuartal II tahun 2021.

"Capaian tersebut didorong oleh kinerja intermediasi keuangan yang tetap ekspansif, tercermin dari pertumbuhan kredit serta perbaikan kinerja sektor asuransi dan dana pensiun yang kembali tumbuh positif setelah mengalami kontraksi dalam dua tahun sebelumnya," tuturnya.

Di sisi lain, kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional juga terus meningkat. Hal ini tercermin dari rasio aset dan produk keuangan Indonesia yang saat ini sudah mencapai 184% dari PDB Indonesia.

Perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya peran pasar modal dalam pembiayaan perekonomian nasional, serta semakin luasnya diversifikasi produk keuangan yang tersedia bagi masyarakat dan pelaku usaha.

"Struktur perekonomian domestik saat ini, kita ketahui bersama masih bersifat bank led atau banyak didominasi oleh sektor perbankan, dimana intermediasi sektor keuangan masih didominasi oleh perbankan," sebutnya.

Dengan demikian, lanjutnya, pendalaman pasar keuangan menjadi fokus utama OJK dengan meningkatkan peran pasar modal, mendiversifikasi sumber pembiayaan, serta mengurangi risiko jatuh tempo dan ketidakcocokan pendanaan dalam sistem keuangan nasional.

(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Revisi UU P2SK, OJK Bukan Lagi Penyidik Tunggal Kasus Pidana Perbankan


Most Popular
Features