MARKET DATA

Rupiah Dibuka Melemah Tipis, Dolar AS Naik ke Rp16.880

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
19 February 2026 09:23
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (19/2/2026).

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di level Rp16.880/US$ atau terdepresiasi 0,03%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (18/2/2026), rupiah ditutup melemah 0,30% di posisi Rp16.875/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01% ke level 97,692. Namun, secara tren dolar masih menunjukkan kekuatan setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya DXY menguat tajam 0,56% ke posisi 97,703.

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik. Dari luar negeri, penguatan dolar AS pada perdagangan sebelumnya memberi tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen dolar menguat setelah risalah pertemuan kebijakan terbaru Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menunjukkan para pembuat kebijakan hampir bulat sepakat menahan suku bunga, namun masih berbeda pandangan untuk langkah berikutnya.

Sejumlah pejabat masih membuka ruang kenaikan suku bunga apabila inflasi kembali bertahan tinggi, sementara pihak lain menilai pemangkasan suku bunga tetap mungkin dilakukan jika tekanan harga mereda.

Ekspektasi pasar juga cenderung menempatkan peluang pemangkasan suku bunga baru menguat mulai pertemuan Juni, berdasarkan pemantauan CME FedWatch Tool. Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian, termasuk perkembangan pembicaraan nuklir AS dan Iran yang meski mencatat kemajuan pada prinsip-prinsip utama, namun belum mengarah pada kesepakatan final dalam waktu dekat.

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan merilis mengenai keputusan akan suku bunga BI pada hari ini.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 lembaga/institusi semuanya solid dengan seluruhnya memproyeksikan BI akan kembali menahan suku bunga di level 4,75% pada pertemuan RDG kali ini.

Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai keputusan menahan suku bunga menjadi opsi paling realistis di tengah kondisi pasar global yang belum stabil.

"Kemungkinan BI menahan suku bunga ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian pasar global dan meningkatnya tensi geopolitik," ujar Juniman kepada CNBC Indonesia pada Rabu (18/2/2026).

Meski begitu, Juniman menilai BI masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga ke depan, mengingat tekanan inflasi domestik dinilai relatif rendah.

"Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 2,92% pada bulan sebelumnya. Di sisi lain, pelonggaran suku bunga juga dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi domestik," lanjut Juniman.

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Melemah 0,06%, Dolar AS Naik ke Rp 16.700


Most Popular
Features