Bitcoin Rontok 50%, Sinyal Crypto Winter Muncul Lagi?

mkh, CNBC Indonesia
Senin, 16/02/2026 07:40 WIB
Foto: bitcoin btc

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga Bitcoin kembali tertekan tajam setelah anjlok hampir 50% dari rekor tertinggi di atas US$126.000 yang dicapai Oktober lalu. Dalam sebulan terakhir saja, aset kripto terbesar di dunia itu sudah merosot lebih dari 25%, memicu kekhawatiran pasar akan kembalinya "crypto winter".

Penurunan ini mengingatkan investor pada 2022, saat krisis FTX menyeret Bitcoin dari kisaran US$50.000 hingga sempat menyentuh US$15.000. Kini, lemahnya pantulan harga memunculkan pertanyaan: apakah siklus penurunan panjang kembali dimulai?

Namun, data arus dana exchange-traded fund (ETF) menunjukkan gambaran yang lebih bernuansa. Produk ETF spot Bitcoin seperti iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock memang mencatat arus keluar (outflow) sekitar US$2,8 miliar dalam tiga bulan terakhir. Meski demikian, secara tahunan ETF tersebut masih membukukan arus masuk (inflow) bersih sekitar US$21 miliar.


Secara keseluruhan, kategori ETF spot Bitcoin mencatat outflow sekitar US$5,8 miliar dalam tiga bulan terakhir, tetapi masih mempertahankan inflow bersih US$14,2 miliar dalam setahun terakhir. Ini mengindikasikan bahwa investor jangka panjang belum sepenuhnya meninggalkan aset kripto, meski volatilitas meningkat.

Mengutip CNBC.com, Senin (16/2/2026), Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, menilai tekanan jual lebih banyak berasal dari trader jangka pendek dan hedge fund yang memanfaatkan likuiditas ETF untuk keluar cepat saat momentum negatif. "Bukan investor ETF jangka panjang yang mendorong aksi jual ini," ujarnya dalam program CNBC ETF Edge.

Di sisi lain, CEO Galaxy Digital Mike Novogratz menyebut era spekulasi besar-besaran di pasar kripto mungkin mulai berakhir. Menurutnya, ke depan kripto bisa lebih menyerupai aset jangka panjang dengan potensi imbal hasil lebih moderat.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ekspansi Elnusa 2026: Bisnis CCUS - Manfaatkan AI Sektor Migas