Investasi Ini Diramal Cuan di Tahun Kuda Api
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 5,1-5,3% pada 2026. Seiring dengan itu, beberapa instrumen investasi dinilai patut diperhatikan untuk investor di tengah tahun Kuda Api.
Chief Economist, Macro Strategist & Debt Research Division Head PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Helmy Kristanto mengatakan, optimisme masyarakat tercermin dari Indeks Kepercayaan Konsumen yang naik ke 127, tertinggi dalam setahun terakhir. Di sisi perbankan, uang beredar (M2) tumbuh 9,6% dan kredit mulai ekspansif, menandakan aktivitas ekonomi yang semakin bergerak. Sementara itu, pelonggaran suku bunga global dapat membuka peluang arus modal masuk ke emerging markets seperti Indonesia.
"Pada tahun ini, dampak kebijakan ekonomi mulai terasa. Daya beli membaik, likuiditas longgar, dan aktivitas usaha meningkat. Biasanya kondisi seperti ini diikuti penguatan pasar modal. Investor yang disiplin memiliki peluang besar untuk menangkap pertumbuhan tersebut," jelas Helmy dalam laporan Market Outlook 2026, dikutip Sabtu, (14/2/2026).
BRIDS menilai kombinasi saham dan obligasi tetap relevan di 2026. Arah suku bunga global yang lebih stabil dan kebijakan moneter domestik yang akomodatif membuka ruang bagi instrumen fixed income untuk tetap menarik sebagai penyeimbang portofolio, sementara saham berpotensi memberikan pertumbuhan seiring membaiknya fundamental emiten.
Beriringan, Founder Feng Shui Consulting Indonesia Yulius Fang menilai, tahun 2026 sebagai tahun yang penuh momentum namun tetap membutuhkan kedisiplinan dalam mengelola keuangan.
"Tahun Kuda Api membawa energi optimisme dan pergerakan cepat, namun kunci keberhasilan justru ada pada strategi yang tenang dan bertahap. Investor sebaiknya mengatur cash flow dengan baik, menghindari overconfidence, dan fokus pada pertumbuhan yang konsisten. Slow and steady win the race, melangkah mantap menuju kemajuan akan memberikan hasil yang lebih berkelanjutan," ujarnya.
Sebagai gambaran, di tahun 2025 lalu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyebut sepanjang 2025 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencapai rekor tertinggi hingga 24 kali.
Menurutnya, perekonomian RI yang terjaga dan sentimen positif global membawa angin segar bagi pasar modal Tanah Air hingga pada akhir tahun IHSG berhasil ditutup di level 8.646,94 atau menguat 1,62% secara month to month atau 22,13% secara tahunan.
(wur/wur)