MARKET DATA

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp16.785

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
12 February 2026 09:03
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNCB Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis (12/2/2026).

Melansir data Refinitiv, rupiah dibuka di posisi Rp16.785/US$ atau terdepresiasi 0,06%. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (11/2/2026), rupiah ditutup menguat 0,09% di level Rp16.775/US$, sekaligus memperpanjang tren positif rupiah yang telah menguat dalam tiga hari perdagangan beruntun.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau berada di zona hijau dengan penguatan 0,02% ke level 96,852. Penguatan ini melanjutkan pergerakan pada perdagangan sebelumnya, ketika DXY ditutup menguat tipis di posisi 96,834.

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama dinamika dolar AS di pasar global. Dolar menguat setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan.

Laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam menambah 130.000 pekerjaan baru atau nonfarm payrolls (NFP) pada Januari 2026. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 70.000 pekerjaan, sekaligus lebih tinggi dibanding revisi data Desember yang sebesar 48.000 pekerjaan.

Penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi di sektor perawatan kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi, sementara sektor keuangan serta pemerintahan mencatat penurunan tenaga kerja.

Seiring lonjakan penciptaan lapangan kerja tersebut, tingkat pengangguran AS juga membaik. Tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,3% pada Januari 2026, lebih baik dibandingkan Desember yang sebesar 4,4% serta di bawah ekspektasi pasar.

Data yang solid ini memperkuat persepsi ekonomi AS masih cukup tangguh, sehingga mendorong aliran dana kembali ke aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut pada akhirnya menopang greenback dan menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Menutup Pekan Naik Tipis, Dolar AS Turun ke Rp16.625


Most Popular
Features