MARKET DATA

Rupiah Terkoreksi di Pembukaan, Dolar AS Naik Rp16.850

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 February 2026 09:03
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/2/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah pagi ini berada di level Rp16.850/US$ atau terdepresiasi 0,15%. Pelemahan ini melanjutkan tren dari perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 0,36% ke posisi Rp16.825/US$, yang menjadi level terlemah rupiah dalam dua pekan terakhir.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau kembali berada di zona hijau dengan penguatan 0,04% ke level 97,865 sekaligus memperpanjang tren penguatannya.

Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen, terutama dari eksternal. Pertama, penguatan DXY mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar pada aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini pada gilirannya dapat menambah tekanan pada mata uang lain, termasuk rupiah.

Dolar AS juga masih mendapat dukungan setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve pekan lalu.

Pasar menilai Warsh berpotensi tidak terlalu mendorong pemangkasan suku bunga agresif, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Di saat bersamaan, meningkatnya sikap risk-off turut menopang dolar, seiring tekanan di pasar saham khususnya saham teknologi di tengah kekhawatiran belanja besar pada kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap berbagai sektor.

Sentimen kehati-hatian ini terjadi meski imbal hasil US Treasury cenderung menurun setelah sejumlah data mengarah pada pasar tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan menjelang rilis payrolls Januari pekan depan.

Selain itu, sentimen dari lembaga pemeringkat juga menjadi sorotan. Moody's menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Kamis (5/2/2026). Penyesuaian ini didorong penilaian Moody's atas menurunnya kepastian dan prediktabilitas kebijakan, khususnya dari sisi tata kelola, yang dinilai berpotensi menekan kredibilitas kebijakan dan kinerja ekonomi jika berlanjut.

Moody's juga menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan telah melemahkan kepercayaan investor, tercermin dari volatilitas pasar saham dan nilai tukar.

Menanggapi hal tersebut, mengacu pada publikasi Bank Indonesia, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.

Perry menyampaikan pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 mencapai 5,39% sehingga secara keseluruhan 2025 tumbuh 5,1%. Inflasi tercatat 2,92% dan berada dalam sasaran, sementara stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui kebijakan Bank Indonesia. Stabilitas sistem keuangan juga terjaga, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Loyo Awal Tahun, Dolar AS Tembus Rp16.715/US$


Most Popular
Features