Rupiah Ditutup Melemah, Dolar Naik Tipis Jadi Rp 16.765

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 04/02/2026 15:07 WIB
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (4/2/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan hari ini dengan pelemahan sebesar 0,06% atau terdepresiasi ke level Rp16.765/US$. Kondisi rupiah berbalik dari perdagangan sebelumnya, di mana berhasil menguat 0,18% di level Rp16.755/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang level Rp16.750/US$–Rp16.775/US$. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami pelemahan sebesar 0,07% di level 97,367.


Pergerakan rupiah di perdagangan hari ini, sebetulnya mendapatkan angin segar dari melemahnya dolar AS di pasar global, namun sayangnya rupiah masih belum mampu memanfaatkannya. Hal ini seiring dengan kondisi domestik yang masih belum pulih dari tekanan outflow di pasar saham Indonesia.

Sebagai informasi, nilai tukar dolar AS sedang mengalami tekanan dan bergerak turun karena para pelaku pasar memilih untuk bersikap hati-hati sambil menunggu rilis data ekonomi terbaru Amerika Serikat.

Data ini dianggap sangat krusial karena dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai kebijakan bank sentral AS (The Fed), khususnya terkait seberapa cepat mereka akan melakukan pemangkasan suku bunga di masa depan.

Fokus utama investor saat ini tertuju pada laporan penggajian swasta dari ADP yang akan dirilis pukul malam ini, serta survei sektor jasa ISM yang menyusul setelah ADP.

Menurut analis dari Danske Bank, angka yang keluar dari data ADP ini akan memberikan gambaran awal atau sinyal bagi pasar mengenai apa yang bisa diharapkan dari laporan tenaga kerja utama (nonfarm payrolls).

Laporan nonfarm payrolls yang seharusnya sudah rilis hari Jumat lalu ini memang sempat tertunda akibat adanya penutupan sebagian layanan pemerintah (partial government shutdown).

Namun, kekhawatiran pasar sedikit mereda karena Presiden Trump telah menandatangani undang-undang untuk mengakhiri penutupan tersebut, sehingga penundaan data diprediksi tidak akan berlangsung lama.

Dari dalam negeri, optimisme terhadap rupiah masih disuarakan pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pergerakan rupiah saat ini belum mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia atau masih undervalued.

Ia bahkan meyakini rupiah berpotensi menguat signifikan dalam waktu dekat.

"Saya sudah bilang Rp16.500, tapi sepertinya Anda belum puas. Saya rasa sekarang, nilai tukar bisa mendekati Rp15.000 terhadap dolar, tidak akan terlalu sulit. Saya tidak bisa berbicara atas nama bank sentral," ujarnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Masih Lanjut Melemah, BI Rate Ditahan Lagi?