Danantara Sudah Masuk Bursa, Pandu Bocorkan Kriteria Saham Pilihan
Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir membeberkan bahwa Danantara sudah masuk ke pasar saham. Hal ini dirinya ungkapkan saat menjadi narasumber di Economic Outlook 2026 oleh Prasasti Centre di ritz Carlton, Jakarta pada Kamis (29/1/2026).
Dirinya pun mengatakan bahwa Danantara sudah mulai masuk setiap hari ke pasar modal.
"Kita sudah berinvestasi. Tapi ya kami diam-diam aja lah. Karena kan kalau info semua juga you know the market," ucap Pandu, dikutip CNBC Indonesia, Senin (2/2/2026).
Pandu juga memberikan bocoran kriteria saham yang akan dibeli oleh Danantara.
"Jadi tentu kalau untuk saham di Indonesia kita akan mencari saham yang memiliki fundamental yang baik," katanya.
Selain itu, dirinya juga melihat dari likuiditas dan nilai dari sebuah perusahaan untuk diinvestasikan oleh Danantara.
"Memiliki likuiditas yang baik. Kita juga harus memilih value yang baik. Jadi fundamental, liquidity and value. Secara fundamental kita harus melihat 3 itu," ungkap Pandu.
Sebelumnya, Pandu Sjahrir juga menyampaikan peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia seharusnya dimaknai sebagai momentum bagi regulator untuk bergerak lebih agresif.
Pandu menegaskan, peringatan dari MSCI tersebut sejatinya bukan hal baru dan telah menjadi perhatian pelaku pasar sejak beberapa bulan terakhir.
"Saya sudah membaca laporan MSCI dan sejujurnya ini bukan hal yang mengejutkan. Isu ini sebenarnya sudah ada sejak 3-4 bulan lalu dan menurut saya ini bisa dihindari," ujar Pandu saat acara Outlook Prasasti Centre di Ritz-Carlton.
Menurutnya, persoalan utama pasar saham Indonesia saat ini adalah terlalu lama berada di zona nyaman, sehingga dibutuhkan semacam "pecut" agar pembenahan bisa dipercepat.
"Ini persoalan zona nyaman. Kita harus menyelesaikannya dan bergerak," tegasnya.
Ia menilai, sudah saatnya pasar modal Indonesia melangkah lebih jauh dan bertransformasi menjadi bursa yang memiliki standar global.
Lebih lanjut, Pandu menekankan bahwa Indonesia seharusnya tidak lagi membandingkan diri dengan pasar-pasar kecil di kawasan, melainkan langsung mengacu pada pasar modal yang telah mendunia.
"Kita harus berkompetisi secara global. Kompetisi kita bukan negara tetangga. Lupakan itu. Patokan kita harus India dan Hong Kong," ujarnya.
Ia pun mendorong agar Indonesia tidak ragu meniru praktik terbaik dari pasar-pasar besar tersebut.
"Tiru saja. Jangan mengacu ke pasar yang lebih kecil," pungkas Pandu.
(fsd/fsd)