Breaking: IHSG Anjlok 1,76% ke 8.183, Saham Emiten Emas Berguguran

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 02/02/2026 09:04 WIB
Foto: Suasana layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026). Indeks dibuka turun 0,28% ke level 8.306,16.

Setelah beberapa menit setelah pasar buka, IHSG melanjutkan pelemahan dan turun hingga  1,76% ke level 8.183.




Sebanyak 265 saham naik, 123 turun, dan 276 belum bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 632 miliar, melibatkan 624 juta saham dalam 71.806 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun turun menjadi Rp 15.027 triliun.

Pelemahan IHSG hari ini terjadi setelah emiten tambang dan perdagangan emas kompak turun usai harga acuan global ambles signifikan akhir pekan lalu. Nyaris seluruh saham emas RI terkoreksi mendekati level double digit penurunan pada awal perdagangan hari ini.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih bergerak volatil pada pekan pertama Februari 2026. Tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang berlangsung bersamaan, mulai dari kembali terjadinya partial shutdown pemerintah Amerika Serikat hingga dinamika internal pasar keuangan Indonesia.
Kondisi ini membuat pergerakan IHSG dan rupiah masih rentan digoyang sentimen jangka pendek.

Berikut sejumlah data dan perkembangan terbaru yang bisa mempengaruhi pasar saham, rupiah, dan SBN

Hari ini, Senin (2/2/2026), S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur untuk Januari. Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia melandai pada Desember 2025 tetapi mencatatkan fase ekspansi selama lima bulan beruntun.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 51,2 pada Desember 2025 atau mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 53,3 di Oktober. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Sektor manufaktur Indonesia mencatat ekspansi yang berkelanjutan pada Desember, dengan pertumbuhan ditopang oleh membaiknya pesanan baru. Perusahaan juga mencatat ekspansi yang berkelanjutan pada tingkat produksi tetapi laju pertumbuhannya melambat. Pendorong utama ekspansi kondisi operasional adalah peningkatan pesanan baru yang terus berdatangan.

Badan Pusat Statistik(BP) akan mengumumkan dua rilis penting hari ini yakni inflasi Januari 2026 dan neraca dagang Desember serta sepanjang 2025.

Inflasi Indonesia diperkirakan melandai pada Januari 2026 seiring normalisasi harga sejumlah bahan pangan. Konsensus pasar yang dihimpun dari 11 institusi memperkirakan inflasi bulanan berada di level rendah, yakni sekitar 0,06% (mtm), jauh lebih terkendali dibandingkan Desember 2025 yang mencatat inflasi 0,64% .

Selain inflasi, BPS juga akan mengumumkan data neraca dagang Desember 2025. Poling CNBC memperkirakan surplus pada Desember 2025 akan mencapai US$ 5,05 miliar, lebih tinggi dibandingkan pada November 2025 yakni US$ 2,66 miliar.

Jika terealisasi, surplus ini akan memperpanjang tren positif neraca dagang Indonesia yang telah bertahan selama 67 bulan beruntun, menjadi sinyal ketahanan eksternal di tengah perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, telah terjadi di tengah gejolak tajam pasar saham serta meningkatnya kekhawatiran investor terkait tata kelola dan transparansi, terutama setelah muncul tekanan dari MSCI. Untuk menjaga stabilitas, OJK telah menunjuk pejabat pengganti efektif per akhir Januari, sementara penunjukan pejabat sementara Direktur Utama BEI dijadwalkan diumumkan awal pekan.

Setelah pekan lalu ada lima orang mengundurkan diri bersamaan, diantaranya

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengundurkan diri.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar.
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi.
Deputi Komisioner Pengawas Emiten I.B. Aditya Jayaantara

Mundurnya sejumlah pimpinan di pasar modal Indonesia, dipicu oleh gejolak tajam di pasar saham dan kekhawatiran soal tata kelola serta kepercayaan investor, terutama setelah MSCI menuntut transparan data dan ancaman menurunkan kategori Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market

Untuk menjaga kelangsungan fungsi pengaturan dan pengawasan sektor keuangan, OJK telah menunjuk pejabat pengganti yang efektif per 31 Januari 2026:

Friderica Widyasari Dewi ditetapkan sebagai Pejabat Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK.

Ia sebelumnya menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, dan memiliki pengalaman panjang di industri pasar modal.

Hasan Fawzi ditunjuk sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.

Jeffrey Hendrik diduga kuat sebagai Pejabat Sementara Direktur Utama BEI (diumumkan Senin).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) memastikan akan menggelar pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin (2/2/2026) sore. Pertemuan ini menjadi krusial di tengah sorotan investor global terhadap pasar saham Indonesia hingga mundurnya tiga pemimpin tertinggi OJK pada Jumat pekan lalu.

Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Plt Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi, menegaskan OJK dan SRO telah menyiapkan seluruh proposal yang diminta penyedia indeks global tersebut.

Hasan menyebut, pertemuan ini akan difokuskan untuk mengonfirmasi kesiapan regulator dan pelaku pasar, sekaligus rencana implementasi konkret atas berbagai permintaan MSCI. OJK berharap pertemuan tersebut berujung pada pernyataan resmi atau kesepakatan dengan MSCI terkait arah pasar saham Indonesia ke depan.

Langkah ini, menurut OJK, merupakan bagian dari ambisi besar untuk mendorong pasar modal Indonesia sejajar dengan best practice internasional, sekaligus meningkatkan daya tarik di mata investor global dan indeks provider dunia.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Uji Urgensi Kenaikan Free Float Saham RI