Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp16.770
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini, Senin (2/2/2026), di tengah dinamika pergerakan dolar di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di posisi Rp16.770/US$ atau terapresiasi 0,06%. Pada perdagangan terakhir, Jumat (30/1/2026), rupiah melemah 0,21% dan ditutup di level Rp16.780/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB berada di zona hijau, menguat 0,09% ke level 97,077. Penguatan ini melanjutkan kenaikan pada penutupan sebelumnya yang melonjak 0,74% di level 96,991.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan dipengaruhi sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, penguatan DXY yakni indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia turut menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Indeks dolar kembali menguat seiring respons investor terhadap kemungkinan arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) di bawah potensi kepemimpinan Kevin Warsh.
Penunjukan Warsh sebagai pilihan Presiden AS Donald Trump untuk kursi Ketua The Fed memicu aksi jual aset berisiko pada Jumat pekan lalu hingga menekan logam mulia.. Meski pasar menilai Warsh cenderung mendukung pemangkasan suku bunga, investor juga memperkirakan ia akan mendorong pengetatan neraca The Fed yang umumnya menopang dolar karena mengurangi likuiditas di pasar.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti dua rilis data penting, yakni inflasi Januari 2026 dan neraca dagang Desember 2025.
Inflasi Indonesia diperkirakan melandai pada Januari 2026 seiring normalisasi harga sejumlah bahan pangan. Konsensus pasar yang dilakukan CNBC Indonesia, dari 11 institusi memperkirakan inflasi bulanan berada di kisaran 0,06% (mtm), jauh lebih rendah dibanding Desember 2025 yang tercatat 0,64%.
Namun secara tahunan, inflasi diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 3,74% (yoy) dari 2,92% pada Desember 2025. Kenaikan ini dinilai lebih dipengaruhi faktor teknis, terutama efek basis rendah terkait diskon tarif listrik pada periode yang sama tahun lalu, bukan karena lonjakan permintaan domestik. Inflasi inti diperkirakan relatif stabil di kisaran 2,4%.
Rilis inflasi ini akan menjadi salah satu acuan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Selain inflasi, Badan Pusat Statistik (BPS) juga akan mengumumkan neraca dagang Desember 2025.
Poling CNBC memperkirakan surplus mencapai US$5,05 miliar, lebih tinggi dibanding November 2025 sebesar US$2,66 miliar. Jika terealisasi, surplus ini akan memperpanjang tren positif neraca dagang Indonesia menjadi 67 bulan beruntun, menjadi sinyal ketahanan eksternal di tengah perlambatan ekonomi global.
(evw/evw)