CLOSE AD
MARKET DATA

Airlangga: BEI Perlu Evaluasi Apa yang Diminta MSCI

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
28 January 2026 16:18
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto saat menyampaikan laporan dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2025 "Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertubuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan" di Grha Bhasvara Icchana, kompleks kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/11/2025) malam. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto saat menyampaikan laporan dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2025 "Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertubuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan" di Grha Bhasvara Icchana, kompleks kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/11/2025) malam. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto meminta kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan evaluasi terkait dengan kendala yang dikeluhkan oleh penyedia layanan indeks acuan global MSCI.

Adapun IHSG ambruk merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. Bahkan perdagangan bursa sempat dihentikan sementara (trading halt) akibat penurunan signifikan IHSG

Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Airlangga menegaskan terkait ambruknya IHSG, pihaknya akan terus memonitor kondisi terkini dan akan menjadwalkan besok untuk rapat dengan dengan pemangku kepentingan lain, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Terkait alasan pelemahan indeks secara signifikan, Airlangga tidak menafikan peran besar IHSG, namun ikut memberikan catatan penting kepada otoritas bursa.

"Pertama ada teknikal MSCI, kedua tentu dari BEI bursa itu perlu untuk melakukan evaluasi mengenai apa yang diminta MSCI," jelas Airlangga, Rabu (28/1/2026).

Terkait transparansi pemegang saham free float di Bursa, Airlangga menilai hal tersebut merupakan persyaratan bagi seluruh penyelenggara pasar modal dan perlu dilakukan peningkatan dengan mekanisme yang sudah menjadi praktik utama di banyak negara.

Dirinya juga menghimbau kepada investor tidak perlu panik, sembari tetap mengukur risiko.

"Ga perlu panik, kalau saham kan risikonya tiap hari ada yang naik ada yang turun," jelas Airlangga.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kekayaan Prajogo Pangestu Lenyap Rp 126 Triliun Dalam Hitungan Jam


Most Popular
Features