CLOSE AD
MARKET DATA

Bos BI Ungkap Detik-Detik Rupiah Nyaris Rp17.000 Lalu Menguat Seketika

Mentari,  CNBC Indonesia
27 January 2026 16:43
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat menyampaikan sambutan dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2025
Foto: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat menyampaikan sambutan dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2025

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo blak-blakan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat beberapa hari terakhir hingga hampir menyentuh level Rp 17.000/US$.

Ia mengakui, pada 23 Januari 2026, kurs rupiah sempat mengalami tekanan hingga ke level Rp 16.815/US$ dari posisi akhir tahun lalu di kisaran Rp 16.675/US$.

"Hingga 23 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp 16.815 per dolar AS atau melemah 0,83% dibanding level akhir Desember 2025," kata Perry saat konferensi pers hasil rapat KSSK, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Perry menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi aliran keluar modal asing akibat ketidakpastian pasar global. Lalu, efek kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik.

Meski begitu, ia menegaskan dengan kebijakan stabilisasi yang konsisten dilakukan BI, kurs rupiah kini mengalami penguatan, dan akan terus menguat.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda pun hari ini ditutup menguat 0,06% ke level Rp16.760/US$. Capaian ini sekaligus memperpanjang tren penguatan rupiah menjadi lima hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat bergerak melemah hingga menyentuh level Rp16.780/US$ sebelum akhirnya kembali berbalik menguat hingga penutupan perdagangan.

"Dipastikan ke depan stabil dan kecenderungan menguat, didukung inflasi rendah dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia," paparnya.

(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Tergelincir, Nilai Tukar Dolar AS Naik Jadi Rp16.430


Most Popular
Features