Seharian Koreksi, IHSG Tiba-Tiba Balik Arah ke Zona Hijau
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil balik arah setelah seharian bergerak di zona koreksi pada perdagangan hari ini, Selasa (27/1/2026). Setelah sempat turun 1,13% pada sepuluh menit pertama perdagangan, IHSG ditutup naik tipis 4,89 poin atau naik 0,05% ke level 8.980,23.
Sebanyak 441 saham turun, 232 naik, dan 130 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 15,11 triliun, melibatkan 33,24 miliar saham dalam 2,08 juta kali transaksi.
Mayoritas sektor perdagangan hijau dengan kenaikan paling tinggi dicatatkan oleh energi dan teknologi, sedangkan yang mengalami depresiasi terparah adalah konsumer primer dan finansial.
DSSA, GOTOÂ dan TLKMÂ tercatat menjadi penggerak utama IHSGÂ hari ini.
Sementara emiten blue chip mencatatkan aksi jual besar hari ini. Saham Astra International (ASII) turun 8,36% ke Rp 6.300 per saham dengan kontribusi pelemahan 23,55 indeks poin. Kemudian disusul oleh Bank Central Asia (BBCA) yang juga ramai dilego investor jelang pengumuman kinerja keuangan tahunan. Saham BBCA turun 1,96% ke Rp 7.500 per saham dan berkontribusi atas penurunan 14,21 poin.
Nyaris seluruh saham pertambangan dan perdagangan emas hari ini kompak terkoreksi setelah ramai-ramai menguat pada perdagangan sesi sebelumnya.
Adapun memasuki perdagangan perdagangan kedua pekan ini, Selasa (27/1/2026), pasar keuangan dalam negeri berada di fase yang sangat sensitif.
Investor dihadapkan pada kombinasi katalis dari dalam negeri terutama arah kebijakan moneter dan independensi BI ke depan setelah penetapan Deputi Gubernur BI baru. Serta sentimen eksternal yang beragam, mulai dari dimulainya rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed hingga dinamika kebijakan energi Uni Eropa dan rilis data perumahan AS yang berpotensi menjadi penggerak pasar hari ini.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar konferensi pers hari ini. Hadir dalam konferensi eprs Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian, konferensi pers ini sangat ditunggu terutama dalam memberikan petunjuk kepada investor mengenai arah kebijakan moneter dan fiscal ke depan.
Menarik ditunggu apakah ada kebijakan baru dari pemangku kepentingan untuk lebih membuat pasar keuangan bergerak positif.
Sementara itu, Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan memulai rapat FOMC selama dua hari pada hari ini Selasa (27/1/2026). Namun, keputusan suku bunga beserta pernyataan kebijakan baru akan rilis pada Rabu (28/1/2026) pukul 14.00 waktu AS, atau Kamis (29/1/2026) dini hari WIB.
Pasar menanti hasil rapat ini karena akan menjadi acuan arah aset global, mulai dari dolar AS, yield US Treasury, hingga selera risiko investor di emerging markets.
Sejalan dengan ekspektasi pasar, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas terbesar mengarah pada penahanan suku bunga. Untuk hasil pertemuan kali ini, FedWatch mencatat peluang ditahannya suku bunga AS pada level 3,50%-3,75% sebesar 97,2%, sementara peluang pemangkasan ke 3,25%-3,50% hanya sebesar 2,8%.
[Gambas:Video CNBC]