Membaca Arah Pasar & Peluang Pertumbuhan Ekonomi di Tahun Kuda Api

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 15:18 WIB
Foto: dok Market Outlook 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto optimis perekonomian Indonesia akan terus bertumbuh di 2026. Pasalnya, Prabowo melihat laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menggambarkan Indonesia sebagai 'Global Bright Spot' dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat di tengah tekanan eksternal yang menantang.

"Meskipun dunia menghadapi kondisi keuangan yang semakin ketat, ketegangan perdagangan, dan ketidakpastian politik, Indonesia optimis akan terus tumbuh," ujar Prabowo dikutip Selasa (27/1/2026).

Menurut kepala negara, perekonomian Indonesia tumbuh lebih dari 5% setiap tahun selama satu dekade terakhir. Prabowo yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih tinggi tahun 2026.


"Inflasi kita tetap sekitar 2% dan defisit APBN sekarang dijaga tetap rendah, yaitu 3% terhadap PDB," kata Prabowo.

Sebagai informasi, Dana Moneter Indonesia alias IMF misalnya, yang memperkirakan ekonomi masih akan tumbuh 5%-5,1%. Lebih rendah dari target pemerintah dalam APBN 2025 dan 2026 yang masing-masing sebesar 5,2% dan 5,4%.

Dari sisi pasar modal, pasar saham Indonesia terlihat semakin menjanjikan di tahun 2026, seiring rekor baru IHSG yang bergerak di level 9.000. Hal ini pun memberikan harapan dan menarik minat investor pada sektor-sektor yang solid dan terlihat menjanjikan.

Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan serangkaian program strategis pasar modal sepanjang 2026 guna memperkuat kepercayaan investor, meningkatkan kualitas emiten, serta memperdalam pasar keuangan nasional.Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan bahwa OJK bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mengimplementasikan berbagai kebijakan kunci agar pasar modal Indonesia tumbuh lebih sehat, transparan, dan berdaya saing global.

"Pada tahun 2026 ini, OJK bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen mengimplementasikan berbagai program strategis untuk penguatan pasar modal," ujar Mahendra dikutip Selasa (27/1/2026).

Program strategis pertama difokuskan pada peningkatan kualitas perusahaan tercatat, antara lain melalui penyempurnaan kebijakan peningkatan free float, termasuk penerapan continuous free float.

Selain itu, OJK juga mendorong penguatan kebijakan ultimate beneficial owner (UBO) serta exit policy yang lebih jelas. Program strategis kedua adalah peningkatan basis investor, baik domestik maupun asing. Menurut Mahendra, penguatan struktur pasar saat ini hampir rampung, sehingga OJK akan lebih agresif mendorong partisipasi investor.

Di saat yang sama, perlindungan investor ritel tetap menjadi prioritas, termasuk melalui penguatan market conduct dan pengawasan terhadap financial influencer (finfluencer) yang kian berperan dalam membentuk persepsi pasar.

Melihat hal itu, untuk mengetahui lebih jauh terkait kondisi dan proyeksi market nasional di tahun ini, CNBC Indonesia akan menggelar Market Outlook 2026 dengan tema "Membaca Arah Pasar dan Peluang Pertumbuhan Baru".

Pada acara ini, sejumlah topik akan dibahas melalui paparan dan upaya mendalam dan diharapkan acara ini tidak hanya memberikan panduan bagi investor dalam menyusun strategi 2026, tetapi juga menjadi panggung kredibel bagi brand investaos untuk memperkuat posisi dan kepercayaan publik pada produk investasi yang diharapkan.

Adapun Market Outlook 2026 akan menghadirkan diskusi menarik dengan narasumber kompeten. Jangan lewatkan Market Outlook 2026 secara eksklusif melalui berbagai program unggulan CNBC Indonesia yaitu Squawk Box, Profit, Power Lunch, Closing Bell, dan Evening Up. Untuk itu, pantau terus informasi seputar ekonomi dan bisnis melaluicnbcindonesia.comdan CNBC Indonesia TV.


(dpu/dpu)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Uang Kartal BI Naik 12,09%, Transaksi Digital Tetap Melaju