Rupiah Ditutup Melesat, Dolar AS Turun ke Rp16.770
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (26/1/2026), seiring melemahnya dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp16.770/US$ atau menguat 0,24%. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah yang telah menguat dalam empat hari perdagangan beruntun. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp16.750-Rp16.785/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,42% ke level 97,194.
Penguatan rupiah hari ini turut ditopang faktor eksternal, terutama pelemahan dolar AS di pasar global. Koreksi DXY mencerminkan tekanan jual pada aset berdenominasi dolar, sehingga sebagian arus dana berpotensi bergeser ke aset berisiko dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dolar AS juga berada di jalur penurunan mingguan paling tajam sejak Juni 2025, di tengah ketegangan geopolitik yang membuat investor lebih waspada. Kondisi ini kembali memunculkan narasi "Sell America", yang sempat mencuat usai gelombang tarif "Liberation Day" tahun lalu.
Sentimen global masih dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Pada pekan lalu, Trump sempat mengangkat ancaman tarif terhadap Eropa terkait isu Greenland, namun kemudian menarik ancaman tersebut setelah menyebut ada kerangka kesepakatan dengan NATO dan menegaskan tidak akan mengambil wilayah otonom Denmark itu dengan kekuatan.
Pergeseran sikap yang cepat ini membuat pasar menilai risiko kebijakan AS masih tinggi, sehingga tekanan terhadap dolar berlanjut.
Menariknya, dolar tetap melemah meski imbal hasil obligasi pemerintah AS cenderung stabil. Ini memberi sinyal bahwa tekanan terhadap greenback saat ini lebih banyak datang dari faktor politik dan ketidakpastian kebijakan, bukan semata arah suku bunga.
Ke depan, fokus pasar akan beralih ke rapat kebijakan The Federal Reserve pekan ini. Pelaku pasar masih memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin berpotensi terjadi pada pertengahan tahun, dengan kemungkinan tambahan satu kali pemangkasan lagi pada paruh kedua 2026.
(evw/evw)