Rupiah Kembali Perkasa, Dolar AS Keok ke Rp16.770
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini, Senin (26/1/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali sesi pagi dengan penguatan 0,24% ke posisi Rp16.770/US$. Penguatan ini melanjutkan tren positif akhir pekan lalu, ketika pada Jumat (23/1/2026) rupiah ditutup di level Rp16.810/US$, menguat 0,41%.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB masih berada di zona pelemahan atau turun 0,51% ke level 97,109. Koreksi ini memperpanjang pelemahan DXY di penghujung pekan lalu, ketika indeks dolar tertekan 0,77% dan ditutup di level 97,599.
Pergerakan rupiah pada awal pekan ini masih berpeluang mendapat dukungan dari melemahnya dolar AS di pasar global.
DXY yang kembali terkoreksi mencerminkan tekanan jual pada aset berdenominasi dolar, sehingga sebagian arus dana berpotensi bergeser ke aset berisiko dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dolar AS juga berada di jalur penurunan mingguan paling tajam sejak Juni 2025, seiring ketegangan geopolitik yang membuat investor lebih waspada dan kembali menghidupkan narasi "Sell America" yang sempat mengemuka setelah gelombang tarif "Liberation Day" tahun lalu.
Sentimen global pun masih dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Trump pada pekan lalu sempat mengangkat ancaman tarif terhadap Eropa terkait isu Greenland, namun kemudian menarik ancaman tersebut setelah menyebut ada kerangka kesepakatan dengan NATO dan menegaskan tidak akan mengambil wilayah otonom Denmark itu dengan kekuatan.
Pergeseran sikap yang cepat ini membuat pelaku pasar menilai risiko kebijakan AS masih tinggi, sehingga tekanan terhadap dolar berlanjut.
Menariknya, dolar tetap melemah meski imbal hasil obligasi pemerintah AS cenderung stabil. Ini memberi sinyal bahwa tekanan terhadap greenback saat ini lebih banyak datang dari faktor politik dan ketidakpastian kebijakan, bukan semata arah suku bunga.
Ke depan, fokus pasar akan beralih ke rapat kebijakan The Federal Reserve pekan ini. Pelaku pasar masih memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin berpotensi terjadi pada pertengahan tahun, dengan kemungkinan tambahan satu kali pemangkasan lagi pada paruh kedua 2026.
(evw/evw)