Rupiah Menguat Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Turun Jadi Rp16.810
Jakarta, CNBC Indonesia — Rupiah menutup perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (23/1/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,41% ke level Rp16.810/US$. Posisi ini menjadi penutupan terkuat rupiah sejak 9 Januari 2026 atau dalam dua pekan terakhir.
Penguatan rupiah sudah terlihat sejak awal sesi. Rupiah dibuka di level Rp16.800/US$, setara menguat sekitar 0,47%, lalu bergerak fluktuatif sepanjang hari di rentang Rp16.800-Rp16.848/US$, sebelum akhirnya bertahan di zona hijau hingga penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) justru terpantau menguat 0,11% ke level 98,462. Artinya, rupiah tetap mampu menguat meski dolar AS sedang menguat di pasar global.
Dalam perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (23/1/2026) nilai tukar rupiah mampu menguat disaat kondisi dolar AS justru tengah mengalami penguatan di pasar global. Hal ini tercerminkan dari pergerakan DXY yaitu indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia yang tengah mengalami kenaikan.
Penguatan dolar didorong meredanya tensi tarif setelah Presiden AS Donald Trump menarik kembali ancaman tarif baru ke sejumlah negara Eropa yang menolak rencana terkait Greenland, sekaligus mengklaim adanya "kerangka kesepakatan" dengan NATO.
Sejumlah analis menilai ancaman tarif tersebut kini mulai kehilangan kredibilitas, sehingga pasar kembali menata posisi secara lebih seimbang.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga mengarah pada upaya menjaga stabilitas rupiah setelah kurs sempat mendekati level psikologis Rp17.000/US$ dalam beberapa waktu terakhir.
Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai stabilisasi nilai tukar bukan hanya soal intervensi di pasar, tetapi juga bagaimana Bank Indonesia mengelola ekspektasi investor.
"Dolar itu seperti komoditas. Kalau barangnya banyak harganya murah, kalau barangnya sedikit harganya mahal. Ketika suplai dolar rendah, harganya otomatis meningkat. Dampaknya, rupiah otomatis terdepresiasi," ujar Piter dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (23/1/2026).
Piter menambahkan, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dolar di pasar. Karena itu, ketika BI melakukan intervensi untuk meredam volatilitas, cadangan devisa berpotensi ikut tergerus seiring kebutuhan pasokan valas untuk menjaga kurs tetap stabil.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)