CLOSE AD
MARKET DATA

Rupiah Perkasa, Dolar AS Turun ke Rp16.800

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
23 January 2026 09:03
Ilustrasi Rupiah dan Dolar di Bank Mandiri
Foto: Ilustrasi Rupiah dan Dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Jumat (23/1/2026).

Mengacu data Refinitiv, rupiah Garuda terapresiasi sebar 0,47% ke posisi Rp16.800/US$. Penguatan ini melanjutkan pergerakan positif sehari sebelumnya, ketika rupiah juga ditutup menguat cukup signifikan 0,30% di level Rp16.880/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau masih berada di zona pelemahan, turun 0,04% ke level 98,316. DXY juga melanjutkan koreksi dari perdagangan kemarin, ketika ditutup melemah 0,41% di posisi 98,359.

Pelemahan lanjutan DXY, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, menjadi salah satu angin segar bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Saat indeks dolar turun, itu menandakan minat pasar terhadap aset berdenominasi dolar mulai berkurang, sehingga sebagian arus dana berpeluang beralih ke aset dan mata uang lain.

Dari sisi eksternal, dolar AS juga berada di bawah tekanan setelah pasar global kembali diliputi ketidakpastian menyusul dinamika sikap Presiden AS Donald Trump terkait Greenland. Ancaman keras yang sempat dilontarkan, lalu diikuti pembalikan sikap secara cepat, membuat investor waspada dan mendorong aksi pengurangan eksposur pada aset-aset AS.

Kondisi tersebut membuat dolar berpeluang membukukan pelemahan mingguan terdalam dalam setahun terakhir, sementara pelaku pasar juga masih menantikan keputusan Bank of Japan (BoJ) yang dapat mempengaruhi pergerakan mata uang utama dunia.

Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada upaya menjaga stabilitas rupiah setelah kurs sempat mendekati level psikologis Rp17.000/US$ dalam beberapa waktu terakhir.

Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai kondisi tersebut menjadi pelajaran bahwa stabilisasi nilai tukar tidak hanya bergantung pada intervensi di pasar, tetapi juga pada kemampuan Bank Indonesia mengelola ekspektasi investor.

"Dolar itu seperti komoditas. Kalau barangnya banyak harganya murah, kalau barangnya sedikit harganya mahal. Ketika suplai dolar rendah, harganya otomatis meningkat. Dampaknya, rupiah otomatis terdepresiasi," ujar Piter dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (23/1/2026).

Dia juga mengakui, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh suplai dolar di pasar. Karena itu, ketika BI melakukan intervensi untuk meredam volatilitas, cadangan devisa berpotensi ikut tergerus seiring kebutuhan pasokan valas untuk menstabilkan kurs.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Menutup Pekan Naik Tipis, Dolar AS Turun ke Rp16.625


Most Popular
Features